MEDIA DAN KONTROL SOSIAL
(Alfiarany Choirun Nisa/B95219085)
A. PENDAHULUAN
Media massa sebagai wadah penyampaian informasi, media hiburan, dan
pendidikan, juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Idealisme media tersebut
sudah sangat kuat dan tertanam dikalangan pekerja media, khususnya kalangan
kuli tinta yang kita kenal dengan sebutan jurnalis. Akan tetapi, idealisme itu
perlahan mulai digerus oleh kalangan pemilik media sebagai pemilik modal dan
sumber dana pengelolaan media. Sehingga berdampak terhadap pemberitaan yang
cenderung beralih fungsi dan sarat akan kepentingan. Memang, tidak semua media
dan jurnalisnya rela melacurkan idealismenya, meski demikian tidak sedikit pula
yang melakukan hal sebaliknya.
Berkembangnya suatu bangsa pada saat ini bergantung pada cepat tidaknya informasi diperoleh dan dikuasai. Maka dari itu diperlukan sebuah media sebagai alat bantu atau sarana untuk memperoleh informasi dari satu atau dua orang. Media ikut serta dalam menjalankan kontrol sosial dimana mereka sebagai sarana untuk mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berperilaku. Sehingga melaluoi media sebagai kontrol sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang.
B. ISI
Kontrol sosial atau pengendalian sosial adalah suatu proses terencana dimana individu dianjurkan, dibujuk ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok. Atau juga disebut sebagai upaya dalam perwujudan kondisi seimbang dalam masyarakat.[1] Dimana hal ini dapat berupa cara cara atau metode untuk mendorong seseorang berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat tertentu.
Media sendiri sebagai sebagai alat untuk mengantar pesan atau meneruskan informasi dari sumber ke penerima pesan. Mereka juga berfungsi sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan atau kontrol masyarakat. Media juga sebagai ruang publik. Kritik sosial dapat disampaikan melalui tanda tanda atau tindakan simbolis yang dilakukan sebagai bentuk ketidaksetujuan atau kecaman protes terhadap suatu keadaan masyarakat yang tejadi.[2]
Jenis-jenis kontrol sosial dapat berupa pertama, pengendalian lisan yang digunakan bahasa lisan yang mengajak anggota kelompok sosial untuk mengikuti peraturan yang berlaku. Kedua, pengendalian simbolik yaitu pengendaian yang dilakukan melalui gambar, tulisan, iklan, dan lain-lain. Contoh: spanduk, poster, rambu lalu lintas, dan lain-lain. Dan yang terakhir adalah pengendalian kekerasan yang dilakukan sebagai wujud tindakan yang dilakukan untuk membuat si pelanggar dan membuatnya tidak berani melakukan kesalahan yang sama. Seperti main hakim sendiri.
Perusahaan pers biasanya dimiliki oleh kalangan pribadi (swasta). Mekanisme aktivitas pers difokuskan pada tindakan memeriksa/mengontrol pemerintah dan mempertemukan kepentingan-kepentingan masyarakat. Libertarian theory akan berkembang menjadi responsibility theory. Dalam teori liberal, pers bukan alat pemerintah melainkan sebagai alat untuk menyajikan fakta, alasan dan pendapat rakyat untuk mengawasi pemerintah (social kontrol terhadap pemerintah) sebagai berikut:[3]:
1. Memberi penerangan kepada masyarakat
2. Melayani kebutuhan pendidikan politik dan masyarakat
3. Melayani kebutuhan bisnis
4. Mencari keuntungan
5. Melindungi hak warga masyarakat
6. Memberi hiburan kepada masyarakat.
Tugas pers yang terpenting disini memberikan informasi, menghibur, menjual, membantu menemukan yang terbaik, dan melaksanakan kontrol sosial serta pemerintahan. Pemanfaatan media pers secara terbuka, maksudnya siapapun berhak untuk menggunakannya. Pemberitaan yang dilarang berupa pemberitaan yang bersifat fitnah, cabul, tidak senonoh dan, penghianatan saat perang.[4]
Kontrol sosial adalah proses yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok untuk memengaruhi, mengajak bahkan memaksa individu atau masyarakat agar berprilaku sesuai dengan norma dan nilai nilai yang berlaku di masyarakat, sehingga akan terciptanya masyarakat yang tertib.
Manusia dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam berinteraksi kadang ada timbul masalah, misalnya terjadi salah paham dan akhirnya berkelahi. Untuk menciptakan keseimbangan sosial. Diperlukannya untuk menghilangkan sebuah penyimpangan sosial.
C. PENUTUP
Kontrol sosial dalam media merupakan bentuk atau cara cara atau metode untuk mendorong seseorang berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat tertentu. Hal itu merupakan suatu proses terencana dimana individu dianjurkan, dibujuk ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok. Atau juga disebut sebagai upaya dalam perwujudan kondisi seimbang dalam masyarakat.
Media berfungsi sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan atau kontrol masyarakat. Tugas pers yang terpenting disini memberikan informasi, menghibur, menjual, membantu menemukan yang terbaik, dan melaksanakan kontrol sosial serta pemerintahan. Pemanfaatan media pers secara terbuka, maksudnya siapapun berhak untuk menggunakannya.
DAFTAR PUSTAKA
Angkawijaya, Masato. Penerimaan Masyarakat Terhadap Kritik Sosial,
Jurnal E-Komunikasi, Vol. 5, No. 1, 2017.
Ataupah, S. Yolandi. Analisis Panggilan Yehezkiel Sebagai Penjaga Israel
Berdasarkan Teori Kritik Sosial. Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Kristen
Satya Wacana. 2012.
Oksinata, Hantisa. Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi Aku Ingin Jadi Peluru. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2010.
Seno Adji, Oemar. Mass Media dan Hukum. Jakarta: Erlangga. 1987.
[1] Hantisa Oksinata, Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi Aku Ingin Jadi
Peluru, (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2010), 33
[2] Masato Angkawijaya, Penerimaan Masyarakat Terhadap Kritik Sosial,
Jurnal E-Komunikasi, Vol. 5, No. 1, 2017, 2
[3] Oemar Seno Adji, Mass Media dan Hukum, (Jakarta: Erlangga, 1987), 54
[4] S. Yolandi Ataupah, Analisis Panggilan Yehezkiel Sebagai Penjaga
Israel Berdasarkan Teori Kritik Sosial, (Salatiga: Fakultas Teologi Universitas
Kristen Satya Wacana, 2012) 9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar