Selasa, 01 Oktober 2019

SURAT AL-QUR'AN



Makalah Mata Kuliah Studi Al-Qur’an





Dosen:
Prof. Dr. Moch. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

Disusun Oleh:
Alfiarany Choirun Nisa
(B95219085)


JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH & KOMUNIKASI
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2019



KATA PENGANTAR

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. serta shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. berkat limpahan dan rahmatnya makalah ini dapat terselesaikan dengan  baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an. Seperti yang diketahui, Al-Qur’an adalah panutan dan pedoman bagi seluruh umat muslim.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al-Qur’an yang telah membimbing dan memberikan pengarahan selama proses pembuatan makalah ini. Terima kasih juga kepada pihak-pihak lain yang ikut serta dalam membantu menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar menjadi acuan dalam pengalaman saya untuk lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.



Surabaya, 26 Agustus 2019



Alfiarany Choirun Nisa





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………….............................….....  ii
DAFTAR ISI ……………………................…………………… iii
BAB I PEMBAHASAN
A.    Pengertian Surat Al-Qur’an…............................................….….. 1
B.     Macam-macam surat…………………....................................…..6
C.     Penamaan Surat dalam Al-Qur’an……........................................10
D.    Penentuan urutan surat-surat Al-Qur’an…...............................….11
BAB II KESIMPULAN…………………........................……… 26
DAFTAR PUSTAKA……………….............................…………39



BAB I
PEMBAHASAN


Secara etimologi atau dari segi bahasa, kata surat berarti kedudukan, kemuliaan, tempat yang tinggi, atau bangunan-bangunan yang tinggi dan indah. Pengertian ini menyiratkan kedudukan dan posisi Al-Qur’an yang tinggi, karena ia diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu al-lauh al-mahfuzh, dari sisi Tuhan yang Maha Tinggi pula yakni Allah SWT[1]
Pengertian seperti ini terdapat dalam puisi karya Nabighah yang berbunyi:

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah
telah memberimu “surat’’, (bangunan tinggi)
Setiap raja melihat dari bawahnya
seraya menggeleng-gelengkan kepala[2]

         Dalam studi Al-Qur’an, definisi surat adalah kumpulan ayat Al-Qur’an yang berdiri sendiri dengan batas permulaan (mathla’) dan batas akhir (maqtha’).[3]
      Selain di atas terdapat juga definisi-definisi surat yang dapat kita ketahui, antara lain:
1.      Abu ‘Ubaidah
(1.)  Surat adalah bagian dari Al-Qur’an yang dipisahkan dari bagian yang lainnya, dan dibiarkan berdiri sendiri, dan kemudian menjadi satuan yang memuat sejumlah ayat Al-Qur’an dan mempunyai nama tersendiri pula.
(2.)  Surat adalah bagian dari Al-Qur’an yang minimal terdiri dari tiga ayat.[4]
2.      Surat adalah sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[5]
3.      Surat adalah sekumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga ayat yang mempunyai permulaan dan penutupan.[6]
4.      Surat adalah bagian dari Al-Qur’an yang memiliki nama dan jumlah ayat tertentu.[7]
5.      Surat adalah bab atau bagian, khususnya salah satu dari 114 Surat yang membentuk Al Qur’an.[8]
6.      Surat artinya mulia atau derajat atau tingkat dari sebuah bangunan. Surat disebutnya dari bagian Al-Qur’an ini menunjukkan karena kemuliaannya.[9]


         Jika diperhatikan secara sungguh-sungguh, surat dalam pengertian seperti yang disebutkan di atas memuat beberapa kepentingan. Di antaranya:
a.   Siapa yang membacanya dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan segala isi muatannya, niscaya ia akan memperoleh berbagai tingkat dalam ilmu pengetahuan.
b.   Surat-surat dalam Al-Qur’an itu menjadi tanda permulaan dan penghabisan untuk setiap bagian tertentu dari Al-Qur’an.
c.   Surat-surat dalam Al-Qur’an laksana gedung-gedung atau bangunan yang sangat indah yang di dalamnya memuat berbagai ilmu pengetahuan dan hikmah.
d.      Setiap surat mengandung beberapa hal yang lengkap dan sempurna.
e.      Setiap surat Al-Qur’an satu sama lain berhubungan erat, tidak dapat dipisahkan antara yang satu dari lainnya seakan-akan merupakan tangga yang bertingkat-tingkat.[10]

Para ahli ilmu Al-Qur’an berbeda-beda dalam mendefinisikan surat di antaranya:

طائفة مستقلة من ايات القران ذات طلع ومقطع

Artinya: “Sekelompok atau sekumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan”.

Manna Khalil mendefinisikan surat sebagai berikut:

السورة : هى الجملة من ايات القران ذات المطع والمقطع
Artinya: Surat adalah kumpulan atau jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki permulaan dan akhiran.[11]
Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa surat adalah kumpulan beberapa ayat, maka tidak ada surat yang terdiri hanya satu ayat. Ia harus memiliki sejumlah ayat , minimal tiga ayat seperti surat al-Kausar [108]. Sekumpulan ayat dapat dinamakan surat dengan syarat mempunyai permulaan dan akhiran. Jika terkumpul sejumlah ayat, tetapi tidak ada permulaan atau akhiran/tidak ada keduanya, maka tidak dapat dinamakan surat Al-Qur’an.
Surat berbeda dengan sub-bab dalam suatu buku, karena surat dalam Al-Qur’an berdiri sendiri. Surat dalam Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sama, dan memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri.
Surat Al-Qur’an yang memiliki nama dan jumlah ayat tertentu dimaksudkan untuk memudahkan upaya memahami dalam mencari pembahasan atau penguasaan yang bersifat hafalan. Di dalam surat-surat Al-Qur’an penggunaan istilahnya dikaitkan dengan pengaruh yang diakibatkan terhadap keyakinan manusia, dan sebagai sarana pertentangan bagi manusia yang menganggap remeh Al-Qur’an dan mengingkarinya. [12]
Gambarannya dapat dilihat dalam pengungkapan ayat Al-Qur’an berikut.

وَاِ ذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَا دَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَا نًا  ۚ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
"Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafik ada yang berkata, Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira." (QS. At-Taubah 9: Ayat 124)


وَاِ نْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَا دْعُوْا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)


1.      Dari segi nama:
Dari segi namanya, surat Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi tiga:
a.       Surat yang hanya memiliki satu nama, seperti Surat an-Nisa’[4], Thaha [20], al-A’raf [7], dan sebagainya. Banyak surat di dalam Al-Qur’an yang termasuk di jenis ini.
b.      Surat yang memiliki lebih dari satu nama, seperti surat al-Fatihah [1] disebut juga Ummul Kitab, Surat at-Taubah [9] yang disebut juga al-Ba’arah, Surat al-Isra’ [17] yang disebut juga Surat Bani Israil, dan lain-lain.
c.       Beberapa surat dengan satu nama, yaitu Surat al-Mu’awwidzatain untuk surat al-Falaq [113] dan an-Nas [114], surat al-Hawamim untuk surat-surat yang didahului oleh kata Ha-mim, Surat al-Zahrawayn untuk Surat al-Baqarah [2] dan Surat Ali ‘Imran [3].

2.       Dari jumlah ayatnya:
Jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 114 surat. Jika surat al-Anfal [8] dan at-Taubah [9] dijadikan satu surat, maka jumlahnya 113 surat.[13]
Surat-surat dalam Al-Qur’an dari segi panjang pendeknya terbagi menjadi empat macam:
a.       Surat ath-thiwa (panjang), yaitu surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100 sampai 200 atau lebih Panjang daripada yang lain. Surat Panjang ini ada tujuh surat, sering disebut juga dengan istilah ‘’Tujuh Surat Panjang’’[14], yaitu Surat al-Baqarah [2] (285 ayat), Surat Ali’ Imran [3] (200 ayat), Surat an-Nisa’ [4] (176 ayat), Surat al-Ma’idah [5] (120 ayat), Surat al-An’am [6] (165 ayat), Surat al-A’raf [7] (206 ayat), serta Surat at-Taubah [9] (204 ayat).
b.      Surat al-Mi’un (seratusan),  yaitu surat yang jumlah ayatnya terdiri sekitar 100 ayat. Kelompok surat ini berada di tengah antara surat-surat panjang dan surat-surat pendek, seperti Surat Hud [11] (123 ayat), Surat Yusuf [12] (111 ayat), Surat al-Mu’minun [23] (118 ayat), dan sebagainya.[15]
c.       Surat al-matsani, yaitu surat yang panjang ayatnya namun di bawah  al-mi’un (seratusan ayat, seperti surat al-Anfal [8] (75 ayat), al-Hijr [15] (99 ayat), dan sebagainya.
d.      Surat al-munfashshal, yaitu surat-surat yang ayat-ayatnya mendekati jumlah surat al-matsani, ia juga disebut dengan surat pendek. Surat-surat pendek dimulai dari Surat al-Hujurat [49] yang berjumlah 18 ayat sampai akhir surat dalam Al-Qur’an yaitu surat an-Nas [114] (6 ayat). Di dalam kelompok ini, surat yang terpendek adalah Surat al-Zalzalah [99] hingga Surat an-Nas [114].
Al-munfashshal berasal dari kata  fashala yang berarti memisah atau terpisah. Sebuah surat dinamakan al-munfashshal karena jumlah ayatnya tidak terlalu banyak, sehingga sering dipisah dengan basmalah. Surat al-munfashshal  ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1)      Thiwal (panjang), yaitu surat al-munfashshal yang panjang, ia terdiri dari surat Qaf [50] (45 ayat), atau dari surat al-Hujurat [49] (18 ayat) sampai dengan surat an-Naba’ [78] (40 ayat) atau surat al-Buruj [85] (22 ayat).
2)      Awsath (pertengahan), yaitu al-munfashshal yang jumlah ayatnya tidak terlalu banyak atau panjang, ia terdiri dari surat ath-Thariq [86] (17 ayat) sampai dengan surat ad-Dhuha [93] (11 ayat), atau al-Bayyinah [98] (8 ayat).
3)      Qishar (pendek), yaitu surat-surat al-munfashshal yang pendek, dimulai dari surat ad-Dhuha [93] (11 ayat)  atau al-Bayyinah [98] (8 ayat) sampai dengan akhir surat dalam Al-Qur’an yakni an-Nas [114] (6 ayat).[16]

Pembagian surat seperti ini dapat mempermudah orang dalam menghafalkannya, mendorong mereka untuk mengkaji dan mengingatkan pembaca surat bahwa ia telah mengambil bagian yang cukup dan jumlah yang memadai dari pokok-pokok agama dan hukum-hukum syari’at.[17]
Adapun terkait jumlah surat pada Al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama, surat dalam Al-Qur’an berjumlah sebanyak 114 surat, tetapi sebagian ulama menghitungnya 113 surat. Kelompok terakhir ini menganggap surat al-Anfal [8] dan at-Taubah [9] satu surat karena tidak adanya pemisah (basmalah) antara kedua surat tersebut, karena itulah jumlah surat menjadi 113 surat. Kendati demikian, pendapat yang kuat menurut jumhur ulama adalah pendapat pertama.[18]
            Sementara itu, golongan Syi’ah meyakini bahwa surah dalam Al-Qur’an berjumlah 116 surat, karena mereka memasukkan dua doa qunut yang juga dikenal dengan nama Surah al-Khal dan al-Hafd. Menurut Al-Baqillani dalam kitabnya yang bernama I’jaz Al-Qur’an memang pernah ditulis oleh Ubay bin Ka’ab di mushaf Al-Qur’an, oleh karena itu timbul dalam golongan ini bahwa keduanya masuk sebagai surat Al-Qur’an. Namun, menurut mayoritas ulama, dua doa Qunut tersebut adalah doa, bukan ayat Al-Qur’an.
Di dalam Al-Qur’an adapun surat yang terbanyak jumlah suratnya adalah Surat Al-Baqarah [2], yang terdiri dari 286 ayat. Sedangkan surat yang terpendek adalah Surat al-Kausar [108] yang terdiri dari 3 ayat.[19]


Setiap surat dalam al-Qur’an memiliki nama tersendiri yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. secara tauqifi. Ini diketahui berdasarkan keterangan yang terdapat dalam beberapa buah hadis dan riwayat bahwa nama pada surat tersebut diberi nama oleh Rasulullah SAW. sendiri. [20]Pemberian nama pada surat Al-Qur’an didasarkan pada:
1.      Diambil dari luar surat, yang artinya nama surat diambil dari kata yang tidak terdapat di surat tersebut. Seperti surat yang pertama dinamai al-Fatihah [1] tidak ditemukan di dalam ayat-ayatnya, namun nama tersebut memberikan petunjuk tentang fungsinya sebagai Fatihah (pembukaan atau pendahuluan) bagi Al-Qur’an.[21]
2.      Kandungan surat. Misalnya Surat Nuh [71] yang mengisahkan Nabi Nuh AS;
3.      Kata pembuka surat. Misalkan surat al-Qari’ah [101] dari kata ‘’ al-Qa-ri-ah’’ pada awal surat.
4.      Fungsi surat. Misalnya surat al-Ikhlas [112] yang berfungsi permunian (ikhlas) tauhid dan keimanan.
5.      Salah satu kata yang ada dalam suatu surat. Misalnya Surat al-Alaq [96] dari kata “Alaq” pada ayat kedua.[22] Selain itu nama tersebut dapat diambil baik itu terletak di permulaan, di tengah, atau di bagian akhir surat. Misalnya surat ke-20, dinamai dengan Thaha. Kata Thaha tersebut sudah dijumpai pada ayat pertama dari. Surat ke-2 dinamai dengan al-Baqarah. Kata al-Baqarah baru dijumpai pada ayat ke-67, dari surat bersangkutan. Selanjutnya surat ke-107, dinamai dengan al-Ma’un, padahal kata al-Ma’un ini baru dijumpai pada akhir ayat yang terdapat pada akhir surat bersangkutan[23]

Dalam peletakan surat-surat Al-Qur’an, surat-surat pendek diletakkan pada bagian akhir, kecuali Surat al-Fatihah [1] (7 ayat) yang diletakkan di bagian paling depan.[24]
Terdapat beberapa pendapat tentang peletakan surat ini. Di antaranya adalah:
1.      Menurut salah satu pendapat, urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat taufiqi, didata langsung oleh Rasulullah SAW. seperti yang diberitahukan oleh Jibril yang bersumber dari perintah Rabbnya.
Dengan demikian, Al-Qur’an pada masa nabi sudah diatur urutan surat-suratnya. Al-Kirmani mengatakan bahwa susunan surat dalam Al-Qur’an tersebut sesuai dengan susunan surat Al-Qur’an pada Lauh Mahfudz. Nabi Muhammad SAW. selalu memperlihatkannya kepada Jibril setiap tahun. Pada tahun menjelang wafatnya beliau, Nabi SAW. memperlihatkannya kepada Jibril sebanyak dua kali. [25]
            Diriwayatkan dari jalur Ibnu Wahab, dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, ‘’Aku mendengar Rabi’ah ditanya ‘’Kenapa al-Baqarah  [2] dan Ali’ – Imran [3] didahulukan padahal ada delapan puluh sekian surat Makkiyah dan yang diturunkan sebelumnya, dan keduanya baru diturunkan di Madinah?’’ Rabi’ah menjawab, ‘’Keduanya sudah didahulukan ketika Al-Qur’an disusun (dikumpulkan) sesuai ilmu zat yang menyusunnya (mengumpulkannya)’’. Setelah itu ia berkata “Ini sudah diputuskan sebelumnya dan tidak boleh ditanyakan”.
Ibnu Hishar berkata, “Urutan-urutan surat Al-Qur’an dan tata letak ayat-ayatnya ditetapkan melalui wahyu. Rasulullah SAW. pernah bersabda ‘’Letakkan ayat ini ditempat ini..”. Urutan surat dan tata letak ayat Al-Qur’an mencapai derajat yakin berdasarkan penukilan mutawatir dari bacaan Rasulullah SAW. dan apa yang telah disepakati oleh para sahabat terkait tata letak surat dan ayat tersebut dalam mushaf.[26]
Rasulullah SAW. juga telah membaca beberapa surat secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surat munfassal (surat-surat pendek) dalam satu rakaat. Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surat Bani Isra’il [17], al-Kahfi [18], Maryam [19], Ta Ha [20] dan al-Anbiya [21]: ‘’Surat-surat itu termasuk yang diturunkan di Mekah dan yang pertama-tama yang aku pelajari. ‘’Kemudian ia menyebutkan surat-surat itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini. [27]
2.      Menurut Imam al-Suyuti, Imam Malik, dan Abu Bakar al-Thayyib, urutan surat adalah hasil pemikiran para sahabat ketika menulis Mushaf Al-Qur’an.[28]
Buktinya, urutan surat berbeda-beda dalam mushaf mereka. Mushaf diurut sesuai turunnya ayat-ayat dan surat-surat. Dimulai dari bagian awal surat al-Alaq [96], lalu al-Muddassir [74], setelah itu Nuh [71], al-Qalam [68], al-Muzzammil [73], dan begitu seterusnya, hingga akhir ayat dan surat Makkiyah dan Madaniyah.
            Mushaf Ibnu Mas’ud dimulai dari surat al-Baqarah [2], setelah itu an-Nisa [4], kemudian setelah itu Ali ‘Imran [3].
            Bagian awal mushaf Ubay bi Ka’ab adalah al-Fatihah [1], selanjutnya al-Baqarah [2], berikutnya an-Nisa [4], kemudian Ali ‘Imran [3].
            Ibnu Abbas meriwayatkan, ia berkata “Aku bertanya kepada Utsman, “Kenapa kau menggandengkan al-Anfal [8] yang termasuk matsani (golongan surat yang diulang) dengan at-Taubah [9] yang termasuk mi’in (golongan surat yang ayatnya berjumlah seratus atau mendekati seratus) tanpa menulis basmalah di antara keduanya, dan engkau meletakkan surat tersebut di golongan tujuh surat yang panjang-panjang?’’ Ia menjawab, ‘’surat-surat yang memiliki jumlah ayat yang panjang turun kepada Rasulullah SAW. ketika ada beberapa ayat turun, beliau memanggil sebagian orang yang bisa menulis lalu berkata, “Letakkan ayat ini di surat yang di dalamnya ada ini dan itu.’’ al-Anfal [8] adalah surat yang pertama yang turun di Madinah, dan at-Taubah [9] termasuk bagian dari Al-Qur’an yang terakhir turun. Kisahnya mirip seperti kisah al-Anfal [8] , sehingga aku mengiranya sebagai bagian dari al-Anfal [8]. Setelah itu Rasulullah SAW. wafat tanpa menjelaskan kepada kami bahwa at-Taubah  [9] bagian dari al-Anfal [8]. Karena itulah aku menggandengkan di antara keduanya tanpa aku tuliskan baris basmalah di antara keduanya, dan aku meletakkannya di golongan tujuh surat yang panjang-panjang.[29]
Berdasarkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Astah dari Ismail bin Abbas dari Hibban bin Yahya dari Abu Muhammad al-Qurashi, ia berkata:
امر هم عثمان ان يتابعوا الطوال فجعل س ورة النفال وسورة التوبة في السبع ولم يفصل
ينهما ببسم الله الر عمن الر حيم
Artinya: “Usman memerintahkan kepada para sahabat agar mengurutkan surat-surat yang panjang. Kemudian ia menjadikan surat al-Anfal [8] dan surat At-Taubah [9]  di dalam kelompok “tujuh” dan surat yang ketujuh. Dan ia tidak memisahkan antara al-Anfal [8] dan At-Taubah  [9] dengan basmalah”.
3.      Abu Muhammad bin ‘Athiyyah dan Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa sebagian besar surat Al-Qur’an diurutkan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. dan sebagian yang lain hasil pemikiran para sahabat. Menurut Baihaqi, susunan Al-Qur’an yang ada sekarang sama seperti zaman Nabi Muhammad SAW, baik surat maupun ayatnya, kecuali Surat Al-Anfal [8]  dan At-Taubah [9].[30]
Sebab, ada riwayat yang menunjukkan urutan beberapa surat pada masa Nubuwah, karena riwayat menunjukkan urutan tujuh surat yang panjang, surat-surat yang dimulai dengan Ha’ mim, dan surat-surat munfashshal pada masa hidup Nabi SAW.
            Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda :Bacalah mu’awwidzatain al-Baqarah  [2] dan Ali ‘Imran [3].
            Diriwayatkan bahwa ketika beliau hendak merebah ke tempat tidur di setiap malam. Beliau menyatukan kedua telapak tangan beliau, lalu beliau meniup keduanya, lalu beliau membaca “Qul huwallahu ahad..” dan mu’awwidzatain (al-Falaq [113] dan an-Nas[114].
            Ibnu Hajar berkata, “Urutan sejumlah surat  atau sebagian besar di antaranya tidaklah menafikan jika urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat tauqifi. Ibnu Hajar memperkuat pernyataannya ini dengan hadits Hudzaifah Ats-Tsaqafi. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW. berkata kepada kami, “Terlintas di pikiranku sebuah hizb (golongan surat-surat) dari Al-Qur’an, hingga aku tidak ingin pergi sebelum menyelesaikannya.” . Kemudian, kami bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. “Bagaimana cara kalian menggolongkan (Surat-surat) Al-Qur’an?’’. Mereka menjawab, “Kami menggolongkannya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, golongan surat-surat munfashshal dari Qaf  [50] hingga akhir.”
            Ibnu Hajar berkata, “Ini menunjukkan bahwa urutan surat-surat seperti yang tertera di dalam mushaf saat ini sudah ada pada masa Rasulullah SAW. Ia berkata, “Kemungkinan surat-surat yang berurutan saat itu adalah golongan surat-surat mufashshal secara khusus, berbeda dengan surat-surat lainnya.”
            Dari ketiga pendapat ini, pendapat yang pertama memiliki dasar yang lebih kuat. Imam al-Bukhari meriwayatkan beberapa hadis yang dikumpulkan dalam bab penataan Al-Qur’an. Ada hadis lain dalam bab tersebut yang menunjukkan bacaan secara urut mengenai surat-surat pendek, surat-surat yang didahului dengan kata Ha-Mim (surat nomor 40-46), serta surat-surat nomor 17-21. Selain itu, pembacaan Al-Qur’an sampai selesai sering dilakukan Nabi Muhammad SAW, baik dihadapan malaikat Jibril maupun di hadapan para sahabat. Tentu dalam bacaan ini, Nabi SAW membaca secara urut. Alasan lain adalah penerimaan para sahabat atas Mushaf Al-Qur’an yang dibuat secara resmi oleh Khalifah Utsman bin Affan RA, termasuk Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, dan Abdullah bin Mas’ud. Ketiga sahabat ini pernah memiliki Mushaf Al-Qur’an yang urutan suratnya berbeda dengan surat Mushaf Al-Qur’an yang resmi. Jika urutan syurat buka sebagai petunjuk Nabi SAW, tentu mereka enggan untuk menerima urutan surat dalam Mushaf AL-Qur’an yang resmi. 
Alasan lainnya sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim al-Ibyariy sebagai berikut: “Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa urutan surat-surat Al-Qur’an adalah berdasar petunjuk Nabi SAW, karena datangnya surat Hawaamiin yaitu surat-surat yang diawali dengan kata Ha-Mim disusun secara tertib. Demikian juga surat Thawaasiin yaitu surat-surat yang diawali dengan kata Tha-Sin. Juga surat al-musabbihat yaitu surat-surat yang diawali dengan kata subbana, sabbaha, yusabbihu, sabbih, tidak tersusun secara urut, bahkan terpisah-pisah antara satu surat dengan surat yang lain. Letak surat al-Qashash [28] dengan awalan Tha-Sin-Mim dan Surat an-Naml [27] dengan awalan Tha-Sin diletakkan secara terpisah. Padahal surat al-Qashash [28] itu lebih pendek daripada Surat an-Naml [27]. Seandainya itu hasil pemikiran para sahabat Nabi SAW niscaya surat al-musabbibat yaitu surat-surat  yang diawali dengan kalimat tasbih disebutkan secara urut, dan surat-surat yang diawali dengan kalimat tasbih disebutkan secara urut, dan Surat an-Naml [27] yang terdiri dari ayat yang lebih sedikit diletakkan lebih akhir daripada Surat al-Qashash [28]”.
            Asy Syihristany Muhammad Ibnu ‘Andi IKarim dalam tafsirnya ‘’MAFATIHU ;’’ASRAR WA MASHABIHI L’’ABRAR’’, ketika membahas firman Allah[31]:
ولقد اتيناك  سبعا من المشا نى
Dan sesungguhnya Kami telah memberimu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang
Ia mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan tujuh ayat ialah tujuh surat yang panjang yaitu, Al-Baqarah [2], Ali ‘Imran [3], An Nisa [4], Al-Maidah [5], Al An’am [6], Al A’raf [7], dan Yunus [10]. Oleh para ulama keterangan tersebut dijadikan bukti bahwa susunan surat-surat itu adalah tauqifi.[32]
Sedangkan pendapat yang kedua yang menyatakan urutan surat-surat Al-Qur’an berdasarkan pemikiran sahabat nabi tersebut tidak berstandar kepada dalil yang menjadi acuan.
Adanya beberapa sahabat yang menyusun mushaf-mushaf pribadi, itu semata-mata atas kemauan mereka sendiri sebelum Al-Qur’an dikumpulkan menjadi satu secara urut. Selanjutnya, setelah surat Al-Qur’an disatukan pada masa Utsman dengan urutan ayat-ayat dan surat-surat dengan satu bahasa dan umat bersatu di atas mushaf tersebut, mereka meninggalkan mushaf-mushaf pribadi tersebut. Andaikan urutan ayat dan surat berdasarkan pemikiran beberapa sahabat nabi, tentu mereka ini tetap berpegangan pada mushaf pribadi masing-masing.
Selain itu, mushaf yang dimiliki oleh para sahabat pada waktu itu bukanlah sebagai acuan atau untuk konsumsi umum yang dijadikan pedoman semua umat Islam, akan tetapi para sahabat menulis mushaf tersebut untuk konsumsi pribadi agar mempermudah ketika ingin membaca, mempelajari ataupun mengkaji al-Qur’an.[33]
Terkait pendapat ketiga yang menyatakan urutan sebagian surat bersifat tauqifi dan urutan sebagian surat lainnya berdasarkan ijtihad, dalil-dalil  pendapat ini focus menyebut nash-nash yang menunjukkan urutan surat-surat secara tauqifi. Sementara untuk bagian urutan surat-surat berdasarkan ijtihad tidak ditopang dalil yang menunjukkan urutan atas hasil ijtihad tersebut, karena adanya urutan tauqifi berdasarkan dalil-dalil bukan berarti menunjukkan selain itu berdasarkan hasil itjihad. Itupun hanya sedikit sekali.

“Dengan demikian menurut pendapat yang kuat, urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat tauqifi, sama seperti urutan ayat-ayatnya.”

            Abu Bakar bin Al-Anbari berkata, “Allah menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan ke langit yang paling bawah (langit dunia). Setelah itu, Allah SWT menurunkannya berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun sebagai jawaban untuk orang-orang yang bertanya. Jibril menunjukkan kepada Nabi SAW, tempat ayat dan surat, sehingga surat-surat tersusun seperti susunan ayat-ayat dan huruf-huruf. Semuanya berasal dari Nabi SAW. Oleh karenanya, barang siapa mendahulukan atau mengakhirkan suatu surat, maka ia telah merusak rangkaian Al-Qur’an.”[34]
            Untuk lebih jelasnya, surat-surat yang diawali dengan kata Ha-Mi disebutkan secara urut sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi SAW. Surat-surat tersebut berurutan dari nomor 40-46 yaitu Surat al-Mu’min [40], Fusshilat [41], al-Syura [42], al-Zukhruf [43], al-Dukhan [44], al-Jatsiyyah [45], dan al-Ahqaf [46]. Ini berbeda dengan Surat al-Syu’ara [26] yang diawali dengan ‘’Tha-Sin-Min’’, Surat an-Naml [27] dengan ‘’Tha-Sin’’, dan Surat al-Qashash, lalu an-Naml. Hal yang sama juga terjadi pada Surat al-Shaff [61], al-Jumu’ah [61], dan al-Taghabun [64]. Ketiga surat ini diawali dengan ‘’yusabbibihu lillaahi maa..”
Akan tetapi, susunan di mushaf Al-Qur’an ternyata terdapat Surat al-Munafiqun [63] yang berada di antara Surat al-Jum’ah [62] dan al-Taghabun [64]. Jadi urutan surat yang tidak masuk akal ini menjadi bukti bahwa urutan surat benar-benar berdasar dari Nabi SAW atas petunjuk Allah SWT melalui Malaikat Jibril AS.
            Berbicara tentang urutan surat, sebagai seorang muslim yang harus membaca Al-Qur’an urutan dalam membaca Al-Qur’an tidaklah bersifat tauqifi. Jadi, seseorang boleh membaca Al-Qur’an diperbolehkan membacanya dari surat mana yang dia anggap mudah tanpa ada keharusan urutan tertentu. Ini didasarkan atas hadis Khudzaifah yang terdapat dalam Kitab Shahih, yang menerangkan bahwa Imam ‘Ali a.s. membaca dalam shalat malamnya surat al-Baqarah [2], kemudian surat an-Nisa [4], lalu surat ‘Ali Imran [3].
            Selain itu seorang pembaca Al-Qur’an diperbolehkan memulainya dengan ayat-ayat tertentu dalam surat tertentu tanpa ada keharusan untuk menyelesaikannya secara lengkap, tetapi urutan-urutan ayatnya haruslah urut.[35]
            Bangunan Al-Qur’an yang terdiri dari beberapa surat ini memiliki beberapa hikmah, antara lain:
1.      Menjadi tantangan atas orang-orang yang tidak percaya dengan Al-Qur’an. Di antara surat-surat Al-Qur’an, surat terpendek hanya terdiri dari tiga ayat. Al-Qur’an menantang manusia untuk membuat surat yang sepadan, meski hanya surat terpendek.
2.      Mempermudah hafalan serta membangkitkan semangat membaca Al-Qur’an. Jika seorang pembaca mengkhatamkan satu surat atau satu juz, ia akan merasa lebih senang dan lebih bersemangat untuk memperoleh hasil lagi, dan akan memotivasinya untuk meneruskan membaca al-Qur’an[36]
3.      Terpancarnya keagungan Al-Qur’an. Seseorang akan mendapatkan keangungan saat membaca Al-Qur’an walaupun tidak membaca semuanya.
4.      Memperindah susunan. Akan lebih indah jika dijadikan beberapa bagian dibandingkan dengan satu bentuk.
5.      Setiap surat dalam Al-Qur’an memiliki karakteristik dan keistimewaan masing-masing.[37]
6.      Bertahap dalam mengajari anak-anak atau seseorang, dari surat-surat yang pendek sampai surat yang panjang, sebagai kemudahan dari Allah.

                       Menurut Nash Hamid Abu Zaid, pengkajian urutan surat yang terkait dengan tema kesesuaian antara surat dan ayat adalah untuk pencarian hikmah dibalik pembuatan ayat yang sesuai dengan ayat yang lain. Begitu pula pembuatan surat bersamaan dengan surat lain dari sisi kandungan. Contohnya adalah al-Fatihah [1] yang menduduki tempat khusus karena ia merepresentasikan pengantar dasar teks sebagai pembuka atau Induk Al-Qur’an. Sebagai surat yang pertama gerakan awalnya adalah fungsi surat al-Fatihah sebagai surat pembuka, pengantar dan sebagai induk Al-Qur’an yang mengandung bagian penting dari pokok-pokok pembahasan Al-Qur’an yaitu tauhid, peringatan, hukum-hukum.
                       Selain itu, Nasr Hamid dalam melihat pembagian surat yang secara beruntun juga menjelaskan antara kaitan surat sebelumnya dan surat selanjutnya. Lebih dalam lagi keterhubungan antara pembagian urutan surat dalam mushaf menurut Nasr Hamid adalah hubungan surat yang mendahulukan penjelasan yang universal yang dijelaskan kemudian dalam surat-surat berikutnya mengenai hukum hukum secara khusus, seperti surat An-Nisa dan Al-Maidah yang menjelaskan legislasi yang berkaitan dengan hubungan sosial dan ekonomi.[38]


KESIMPULAN

Surat adalah kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan akhiran. Surat dalam Al-Qur’an mempunyai jumlah sebanyak 114 Surat. mengatakan surat terdapat 113 ayat karena tidak ada pemisah basmalah di antara surat al-Anfal [8] dan at-Taubah [9]. Nama-nama surat dalam Al-Qur’an dinamai sendiri oleh Rasulullah, surat panjang lebih banyak diletakkan pada awal diikuti dengan surat dengan jumlah ayat menengah dan diikuti dengan surat-surat pendek dibagian akhir.
Hikmah pembagian surat-surat dalam Al-Qur’an ini adalah untuk mempermudah seseorang yang ingin belajar, menghafal dan mengamalkan al-Qur’an. Selain itu memperindah dan memperlihatkan karakteristik surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an.




DAFTAR PUSTAKA

Abidin S, Zainal. 1992. Seluk Beluk Al-Qur'an. Jakarta: Bineka Cipta.
Al-Aththar, D. 1994. Perspektif Baru Ilmu Al-Qur'an. Bandung: Pustaka Hidayah.
Al-Qaththan, M. 2016. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an dan Hadits Jilid I. Jakarta: Ummul Qura.
Al-Qattan, M. K. 2011. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an. Bogor: Litera Antar Nusa.
Ansharuddin, M. 2016. Telaah Historis. Sistematika Susunan Surat di dalam Al Qur'an.
Anshori. 2016. Ulumul Qur'an. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Asnawi, Ahmad. 2010. Biografi Al-Qur'an. Jogjakarta: Diglossia Media.
Aziz, Moh. Ali. 2019. Mengenal Tuntas Al-Qur'an. Surabaya: Imtiyaz.
Daming, M. 2017. Keagungan Al-Qur'an. Makassar: Pustaka Zikra.
Ibrary, Ibrahim. A. 1995. Pengenalan Sejarah Al-Qur'an. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sensa, M. Djarot. 2005. Komunikasi Qur'aniyah. Bandung: Pustaka Islamnika.
W, A.-H. (n.d.). Kamus Al-Qur'an.



[1] Anshori, Ulumul Qur’an, PT RajaGrafindo, Jakarta, 2016, Cetakan ketiga, halaman 19.
[2] Dawud Al-Athhar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Bandung, Pustaka Hidayah, 1994, Cetakan pertama, halaman 175.
[3] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya 2019, Cetakan keempat, halaman 74.
[5] Muh. Daming, Keagungan Al-Qur’an, Makassar, Pustaka Zikra, 2017, Cetakan kedua, halaman 47.
[7] Muhammad Djarot Sensa, Komunikasi Qur’aniyah, Bandung, Pustaka Islamnika, 2005, Cetakan pertama, halaman 66.
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Muhammad Djarot Sensa, Komunikasi Qur’aniyah, Bandung, Pustaka Islamnika, 2005, Cetakan pertama, halaman 67.
[13] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, 2019, Cetakan keempat, halaman 76.
[14] Anshori, Ulumul Qur’an, PT RajaGrafindo, 2016, Cetakan ketiga, halaman 20.
[16] Anshori, Ulumul Qur’an, PT RajaGrafindo, 2016, Cetakan ketiga, halaman 20 dan halaman 21.
[18] Anshori, Ulumul Qur’an, PT RajaGrafindo, 2016, Cetakan ketiga, halaman 20 dan halaman 22.
[19] Ibid, 22.
[20] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016 hal 215.
[21] Ibid, 216.
[22] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan keempat, halaman 76.
[23] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016 halaman 216.
[24] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan keempat, halaman 77.
[25] Ibid
[27] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Litera Antar Nusa, Bogor, 2011, Cetakan ke-14, Halaman 208.
[28] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan keempat, halaman 77. 
[29] Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an dan Hadits Jilid 1, Ummul Qura, Jakarta, 2016, Cetakan pertama, Halaman 215 dan 216.
[30] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan keempat, halaman 77. 

[31] Ibrahim Al Ibrary, Pengenalan Sejarah Al-Qur’an, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1995, Cetakan ketiga, Halaman 55.
[33] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016, halaman 213.

[34] Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an dan Hadits Jilid 1, Ummul Qura, Jakarta, 2016, Cetakan pertama, Halaman 218.
[35] Dawud Al-Athhar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Bandung, Pustaka Hidayah, 1994, Cetakan pertama, halaman 179 dan 180.
[36] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016, halaman 219
[37] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya, 2019, Cetakan keempat, halaman 79 & 80.
[38] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016, halaman 219.


MINI BOOK - MEDIA DAN KRITIK SOSIAL