Selasa, 19 Oktober 2021

FAKTA DAN OPINI

 

FAKTA DAN OPINI
Alfiarany Choirun Nisa/B95219085



A.  PENDAHULUAN

    Dalam membaca sebuah informasi, pastinya kita mendapatkan sebuah hal baru dengan membaca kalimat kalimat dari seorang penulis,. Apalagi jika dilihat dalam keadaan seperti ini media telah berkembang pesat, sehingga informasi dapat dengan mudah kita terima. Dengan informasi yang kita dapatkan itu, kita harus memilah dengan baik apa  yang kita baca. 
Dalam sebuah informasi, fakta dan opini sulit untuk dipisahkan karena keduanya saling melengkapi. Dalam sebuah informasi fakta ditulis merupakan kejadian yang nyata dan sungguh terjadi, dan diketahui banyak orang. Sedangkan opini biasanya gagasan atau pendapat yang dikemukakan yang bersifat subjektif.

B.   ISI

1. Pengertian Fakta

    Fakta adalah kebenaran dalam bentuk pernyataan yang tidak dapat dibantah menurut bahasa Indonesia. Dalam arti KBBI, fakta adalah keadaan atau hal yang merupakan sesuatu yang benar benar terjadi dan nyata. Pernyataan yang dimaksud dalam kalimat pertama adalah berupa kalimat yang ditulis berdasarkan kenyataan, peristiwa atau keadaan yang benar benar terjadi secara objektif atau dapat ditangkap dengan indera sehingga kebenarannya bisa dipastikan.[1]

    Dalam sebuah fakta harus menyajikan beberapa hal, di antaranya adalah kalimat yang berupa kata kata ditulis denga napa adanya sesuai kejadian yang terjadi, tidak ditambahi maupun dikurangi. Hal ini merupakan peristiwa atau kadaan yang telah terjadi dan kebenarannya tidak diragukan.

    Terdapat beberapa jenis fakta yaitu fakta umum dan fakta khusus. Fakta umum merupakan fakta yang kebenarannya berlaku sepanjang zaman dari dulu sampai sekarang. Sedangkan fakta khusus adalah sebuah kebenaran yang berlaku dalam suatu periode tertentu, jadi tidak berlaku selamanya.

    Ciri-ciri fakta terdapat untuk mengetahui sebuah kebenaran. Yaitu [2]:

a. Kebenarannya dapat dibuktikan

b. Data yang ada adalah akurat, misalnya terdapat tanggal, tempat dan waktu kejadian

c. Narasumber yang didapat dipercaya dalam segala perkataannya

d. Sifatnya objektif tidak dibuat buat dan dilengkapi dengan data berupa keterangan atau angka yang menggambarkan suatu keadaan.

e. Menunjukkan peristiwa yang telah terjadi dan dapat menjawab apa, siapa, dimana, kapan dan berapa dengan jawaban yang meyakinkan dan pasti, kenyataan.

        Fakta juga memiliki tujuan yaitu untuk menyajikan sebuah informasi atau peristiwa kepada pembaca, dimana di dalamnya fakta yang terjadi tidak ditambahi maupun dikurangi atau dengan apa adanya. Bahasa yang digunakan dalam fakta adalah bahasa yang sederhana dan jelas bagi pembacanya. Dan fakta banyak dimuat dalam tulisan dengan fokus pada ilmu pengetahuan, industry, pemerintahan, profesi, bisnis, dan perusahaan. 

2. Pengertian Opini

        Opini adalah pandangan atas suatu peristiwa, pikiran, atau pandangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Tulisan opini harus memerhatikan pada suatu kelogisan, dimana ini sedikit lebih rumit daripada bentuk yang lain diperbincangkan.[3] Opini disini adalah pemikiran dan pernyataan yang berisi pendapat. Dimana di dalamnya hasil pemikiran, anggapan, atau perkiraan orang, baik secara individu maupun kelompok. Isi opini tidak berupa khayalan atau pikiran tidak nyata, namun sumbernya adalah fakta dan hasil pemikirannya sangat dipengaruhi unsur pribadi yang subjektif.[4]

        Dalam sebuah opini, semua orang berhak untuk memberikan reaksi, kesan, respon dan perasaannya. Opini sendiri merupakan sebuah pendapat relatif dari seseorang yang memuat pendapat pribadi secara subjektif di dalamnya. 

        Terdapat jenis-jenis opini, yaitu [5]:

a. Opini perorangan, yang merupakan opini yang muncul dari golongan tertentu.

b. Opini umum, yaitu opini yang telah diketahui secara umum di masyarakat.

        Pendapat seseorang atau sekelompok mengenai sesuatu hal yang terjadi merupakan bentuk dari opini, untuk mengetahui hal itu terdapat ciri-ciri opini yang harus diketahui, yaitu [6]:

a. Opini tidak dapat dibuktikan kebenarannya, hal ini terbentuk dari pendapat atau arumen dari seseorang.

b. Sifatnya subjektif, dengan uraian pendapat, daran, dan ramalan tentang sebab akibat dari peristiwa.

c. Tidak adanya narasumber dan merupakan pemikiran sendiri Tidak memiliki data yang akurat.

d. Isinya berupa tanggapan atas peristiwa yang terjadi, dan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana.

e. Di dalamnya terdapat peristiwa yang belum atau akan terjadi di amsa depan, sehingga kejadiannya belum pasti dan diawali kata-kata yang menunjukkan sebuah pendapat.

            Opini bertujuan untuk mengungkapkan kesan terhadap para pembaca. Misalnya kata kata atau kalimat halus yang bersifat menyindir dan tidak sama sekali menyinggung. Tulisan dalam opini adalah pemilihan yang ingin disampaikan oleh penulis dan kata katanya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bahasa yang digunakan lebih sugestif dan lebih kaya maksud. Banyak opini yang dimuat biasanya di alam cerpen, novel, drama, puisi, cerita pribadi, dan esai.

3. Perbedaan Fakta dan Opini

           Membedakan fakta dan opini lebih banyak kesulitan. Untuk mengklaim sebuah fakta sangat sulit jika tidak mengetahui kebenarannya. Jadi cara yang memudahkan adalah melihat ciri-ciri di antara keduanya.

            Terdapat ciri antara fakta dan opini secara sifnifikan jika dilihat. Pada fakta isinya merupakan sebuah kebenaran atau kebenaran yang ada di dalamnya yang bisa dibuktikan. Dalam fakta terdapat tanggal, tempat dan waktu kejadian yang jelas, dan didukung oleh seorang naraasumber yang nantinya akan membuktikan kebenarannya, dengan data yang dapat dimuat berupa keterangan atau angka yang menggambarkan keadaan. Karena ini fakta, jadi kebenarannya bisa dipastikan dengan peristiwa yang sudah terjadi dan merupakan sebuah kenyataan dari sebuah kejadian.

         Sedangkan pada opini, merupakan sebuah pernyataan yang kebenarannya bersifat subyektif dengan ditambahi sebuah pendapat, saran, dan ramalan tentang sebab akibat atas terjadinya sebuah peristiwa. Berbeda dari fakta, opini tidak memiliki narasumber dan tidak memiliki data yang akurat, menunjukkan peristiwa yang belum terjadi dan akan terjadi di masa yang akan datang, bisa juga disebut dengan rencana atau anganan. Karena opini belum diketahui kebenarannya, biasanaya di dalamnya terdapat “menurut saya”, “sepertinya”, “saya rasa”, dan lain-lain.[7]

      Hal yang mudah dimengerti adalah fakta adalah sesuai dengan kenyataan, sedangkan opini tidak sesuai dengan kenyataan tergantung pada keadaan atau sebuah kepentingan jadi perlu ada pembuktian.

        Langkah untuk membedakannya sebagai berikut [8] : 

a. Membaca isi dari sebuah kalimat yang ada, jika di dalamnya mengandung sebuah kebenaran dan data yang mendukung maka hal itu merupakan sebuah fakta, dan apabila tidak ada bukti dan tidak ada data yang mendukung maka itu merupakan sebuah opini.

b. Keduanya berbeda dari manfaatnya. Dalam sebuah fakta mempunyai manfaat untuk melengkapi sebuah informasi dan menambah pemahaman tentang suatu konsep tertentu, sedangkan opini bermanfaat untuk membantu untuk memahami sesuatu yang diuraikan dalam berita atau laporan.

4. Contoh Kalimat Fakta dan Opini

      Setelah dijelaskan pengertian, tujuan, bahasa, hingga ciri-ciri, mungkin kalian sudah mempunyai gambaran tentang bagaimana kalimat yang merupakan fakta atau opini. 

a. Kalimat fakta

        Berdasarkan jenis fakta, terdapat beberapa contoh kalimat fakta yang merupakan jenis fakta umum dan fakta khusus.

1) Pada garam laut mengandung banyak natrium klorida (alami) tetapi mengandung sedikit mineral. Pada kalimat ini menunjukkan fakta yang kebenarannya berlaku sepanjang dari dulu hingga sekarang, dengan menyebutkan bukti sebuah zat yang alamiah sebagai pendukung.

2) Ibu dari Anita kemarin demam hingga 39 derajat panasnya. Pada kalimat ini adalah kebenaran yang berlaku dalam suatu periode tertentu dan tidak terjadi terus. Pembuktian dengan adanya suhu tubuh yang diukur mencapai angka tertinggi yang menandakan ia sedang demam.

b. Kalimat opini

1) Menurut para ahli, dalam 20 tahun mendatang wilayah hutan Indonesia terancam rusak karena dibukanya lahan baru. Pada kalimat ini merupakan opini hanya dimunculkan oleh golongan tertentu. Misalkan para ahli yang disini mengatakan sebuah pernyataan.

2) Kebiasaan merokok dapat merugikan kesehatan tubuh dan orang lain yang menghirupnya. Pada kalimat ini adalah opini yang telah diketahui secara umum di masyarakat. Dimana rokok memang merugikan dan membahayakan semua orang, mereka tahu tanpa diberi tahu akan hal itu.

C. PENUTUP

        Fakta merupakan hal atau peristiwa yang ada dan benar benar terjadi yang ditulis dengan apa adanya tanpa ditambahi atau dikurangi dengan ap ayang terjadi sebenarnya. Fakta harus didukung dengan bukti kebenaran agar dapat dipastikan, misalnya seperti data yang akurat untuk mendukung. Sebuah fakta biasanya dapat menjawab pertanyaan apa, siapa, dimana, dan kapan dengan kepastian.
      Sedangkan opini dapat diartikan sebuah pernyataan dari seseorang yang merupakan sebuah pendapat, pikiran pribadinya. Atau juga bisa disebut gagasan. Kebenarannya bersifat relatif, dan tidak memiliki bukti untuk mendukung kebenarannya biasanya. Berbeda dari fakta, opini tidak memiliki narasumber dan kebanyakan adalah isi dari seseorang pribadi. Untuk membedakan dua hal ini harus dicermati dengan seksama, dengan membandingkan ciri ciri antara fakta dan opini akan terlihat jelas perbedaannya.


[1] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Press, 2008), 386

[2] Keleng, Pengantar Ilmu Komunikasi Jilid I Edisi 5, (Jakarta: Erlangga, 2012), 5

[3] Dalman, Keterampilan Membaca, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), 61

[4] Sulami Sibua, Kemampuan Mengidentifikasi Fakta dan Opini, Jurnal Pendidikan Vol. 14, No. 1, Januari 2016. 357 

[5] Keleng, Pengantar Ilmu Komunikasi Jilid I Edisi 5, (Jakarta: Erlangga, 2012), 4

[6] Ibid, 5

[7] Suyono, Patofisiologi Diabetes Melitus dalam Soegondo S, (Jakarta: FKUI, 2007), 158

[8] Adang Heriawan, Model-model Pembelajaran, (Jakarta: Grafindo Persada, 2012), 173

DAFTAR PUSTAKA

Dalman. 2013. Keterampilan Membaca. Jakarta. Raja Grafindo Persada. 
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Gramedia Press. 
Heriawan, Adang. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta. Grafindo Persada. 
Keleng. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi Jilid I Edisi 5. Jakarta. Erlangga. 
Sibua, Sulami. 2016. Kemampuan Mengidentifikasi Fakta dan Opini, Jurnal Pendidikan Vol. 14, No. 1 Januari. 
Suyono. 2007. Patofisiologi Diabetes Melitus dalam Soegondo S. Jakarta: FKUI. 

Selasa, 05 Oktober 2021

MEDIA DAN RUANG PUBLIK

 

MEDIA DAN RUANG PUBLIK
(Alfiarany Choirun Nisa/B95219085)



A. PENDAHULUAN

    Ruang publik merupakan sesuatu hal dan bagian terpenting dari suatu negara demokrasi. Karena demokrasi dapat berjalan dengan baik jika dalam suatu negara terdapat ruang publik yang setara. Dimana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berpartisipasi dan menyampaikan idenya. Kesetaraan tersebut mencangkup seluruh individu negara dan tidak berfokus pada kelompok tertentu. Berbagai macam ide maupun pendapat mendapatkan porsi yang sama di masyarakat.
    Media berperan sebagai ruang publik dalam demokrasi. Dimana ruang publik merupakan sebuah tempat yang sudah disebutkan bahwa warga dapat mengutarakan pendapatnya untuk mencapai kesepahaman bersama mengenai kepentingan mereka. Lewat ruang publik yang demokratis, akan terbentik opini publik sebagai modal politik dalam mengarahkan jalannya pemerintahan. Dimana di dalamnya terdapat kesempatan yang sama bagi warga negara untuk terlibat dalam delibrasi publik tanpa adanya tekanan dari pihak lain.

B. ISI

    Ruang publik merupakan sebuah tempat untuk menampung masyarakat dalam aktivitasnya, baik secara individu maupun kelompok, dimana bentuk ruang publik tergantung pada pola dan susunan massa bangunan.[1] Ruang publik yang ideal harus memiliki tiga hal, yaitu responsif, demokratis, dan bermakna. Ruang publik harus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan maupun kepentingan luas yang memiliki fungsi lingkungan hidup. Dalam arti sebenarnya ruang publik harus dapat digunakan oleh masyaralat umum yang berada dalam latar belakang sosial yang berbeda, ekonomi dan budaya serta akses bagi berbagai kondisi fisik manusia. Ketertautan antara manusia, ruang, dan dunia harus ada dengan konteks sosial. Ruang publik di dalamnya terdapat sistem pemaknaan.
Ruang publik adalah sebagai ruang yang terletak di antara komunitas ekonomi dan negara tempat publik melakukan diskusi yang rasional, membentuk opini mereka. Serta menjalankan pengawasan terhadap pemerintah. Terdapat tiga prinsip utama dalam ruang publik [2]:
1. Akses yang mudah terhadap infomasi. Pada awalnya akses ini hanya dimiliki oleh Sebagian kecil anggota masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan media massa teknologi masa kini memungkinkan anggota masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap informasi. Media semakin memungkinkan setiap anggota masyarakat menyampaikan ide atau gagasannya untuk dibicarakan di forum-forum pubik. 
2. Tidak ada hal yang istimewa terhadap peserta. Hal ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat memiliki kesetaraan dalam proses komunikasi penyampaian gagasan dan pendapat mereka. Tidak adanya kelompok yang mendominasi atas kelompok lainnya.
3. Perserta atau partisipan dapat mengemukaka alasan rasional dalam berdiskusi. Alasan rasional ini menjadi syarat penting terwujudnya ruang publik yang baik. Hal ini akan menjamin bahwasannya debat yang berlangsung dapat dipertanggungjawabkan dengan sumber informasi yang benar dan tepat, sheingga dapat menghindarkan terjadinya debat dalam pertarungan emosional antar partisipan. 

Aktivitas komunikasi di ruang publik harus berorientasi pada klaim yang valid yang secara nyata berbeda, tetapi terkait dan saling melengkapi satu sama lain, yaitu diantaranya[3]:

1. Klaim kebenaran, yaitu klaim yang menyangkut dunia alamiah objektif.

2. Klaim ketepatan, yaitu klaim tentang pelaksanaan norma-norma sosial.

3. Klaim kejujuran, yaitu klaim tentang kesesuaian antara batin dan ekspresi.

4. Klaim komprehensibilitas, yaitu klaim tentang kesepakatan karena terpenuhinya tiga klaim di atas sebagai alasan yang mencukupi untuk konsensus.

Ruang publik merupakan sebuah ruang yang mudah diakses tanpa batas, bebas dari tekanan  kekuasaan negara dan ekonomi, dimana warga negara melakukukan pembicaraan politik guna mewujudkan suatu kesepahaman umum yang lebih luas. Konsep dasar ruang publik ini merupakan tempat untuk berkomuniasi sebagai elemen pembentuk kehidupan sosial yang bersandar pada rasionalitas komunikatif anggota masyarakat.[4]
Media adalah alat untuk menyampaikan pesan, menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan sebagainya. Terdapat berbagai macam media yang ada saat ini diantaranya[5]:
1. Media massa cetak, yang merupakan media yang dicetak dalam bentuk lembaran kerras yang berbentuk surat kabar, tabloid, majalah, buku, dan lain lain.
2. Media massa elektronik, yang informasinya disalurkan melalui suara atau gambar dengan menggunakan teknologi, seperti radio, televisi dan film.
3. Media massa online, yang merupakan jenis media baru yang mudah diakses oleh banyak khalangan seperti instagram, facebook, twitter, dan lain-lain.
Media saat ini berusaha dengan gayanya untuk memberikan gambaran dari sebuah kehidupan yang harus terungkap, sehingga publik dapat menilai dan memutuskan bagaimana harus bersikap. Dalam era dimana informasi berlimpah ditandai dengan banyaknya jenis jenis media dan jumlah media massa yang berisikan infromasi masuk ke ruang publik, dimana banyak tumbuhnya juga ruang masyarakat untuk bertukar opini, berdiskusi dana berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Media sebagai jembatan bagi masyarakat dengan pemerintah.[6]
Peran ideal media sebegai salah satu pilar menjaga bangsa bertarung dengan kepentingan ekonomi untuk bisa tetap bertahan, berkembang, dan menguasai Sebagian besar ruang publik. Media sebagai sarana untuk melihat kejadian yang ada di luar, dimana media massa terkhusus untuk mempresentasikan berbagai infromasi dan ide ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik.

C. PENUTUP

Sebagai individu dan makhluk sosial, tentunya manusia tidak akan terlepas dari kegiatan berkomunikasi satu sama lain. Sebelum adanya internet, kegiatan komunikasi massa maupun ruang terbuka publik seperti televisim radio, koran, dan media lainnya sampai pada era media sosial dapat menjadi perantara komunikasi bagi pemerintahan dan juga rakyat dalam sebuah negara. Kehadiran ruang publik ini melalui media mampu menghilangan celah tersembunyi yang tidak diketahui oleh masyarakat luas, menjadi terbuka dan dapat diketahui oleh masyarakat. 
Ruang publik berupa tempat pertemuan, diskusi dengan masing masing anggota sebagai warga negara dapat saling bertukar ide dan gagasan tanpa adanya ketakutan atau tekanan dari penguasa. Ruang publik dianggap sangat penting dalam menyamai demokrasi. Dan dalam konteks modern, salah satu sarana ruang publik yang terpenting adalah media. Dimana media merupakan sarana untuk melihat apa yang terjadi di luar.

DAFTAR PUSTAKA

Cangara, Pengantar Ilmu KomunikasiJakarta: Raja Grafindo Persada, 1998.
Habernas, Ruang PublikBantul: Kreasi Wacana, 1974.

Juwono Tri Atmodjo, Media Massa dan Ruang Publik, Jurnal Visi Komunikasi, Vol. 14, No. 2, November 2015.
Poespowardjojo, Diskursus Teori—teori Kritis. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2016

Rustam Hakim, Unsur Perancangan Dalam Arsitektur Lansekap. Jakarta: Bumi Aksara. 1987.
Saleh, Pontianak, Upaya Menjadikan RRI Sebagai Radio Publik Yang Dipercaya, Menarik, Melibatkan Publik, dan Laku Dijual. Pontianak: 2005.


[1] Rustam Hakim, Unsur Perancangan Dalam Arsitektur Lansekap, (Jakarta: Bumi Aksara, 1987), 54

[2] Saleh, Pontianak, Upaya Menjadikan RRI Sebagai Radio Publik Yang Dipercaya, Menarik, Melibatkan Publik, dan Laku Dijual, Pontianak, 2005, 49

[3] Poespowardjojo, Diskursus Teori—teori Kritis, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2016),167
[4] Habernas, Ruang Publik, (Bantul: Kreasi Wacana, 1974), 49
[5] Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 126-127
[6] Juwono Tri Atmodjo, Media Massa dan Ruang Publik, Jurnal Visi Komunikasi, Vol. 14, No. 2, November 2015, 223

MINI BOOK - MEDIA DAN KRITIK SOSIAL