Media dalam Perspektif Ekonomi dan Politik
(Alfiarany Choirun Nisa/B95219085)
A.
PENDAHULUAN
Berkembangnya suatu bangsa pada saat ini bergantung pada cepat tidaknya informasi diperoleh dan dikuasai. Maka dari itu diperlukan sebuah media sebagai alat bantu atau sarana untuk memperoleh informasi dari satu atau dua orang. Fungsi media sendiri tidak hanya sebagai penyampai informasi, namun juga menampung dan menyalurkan keburutuhan manusia untuk mengeskpresikan diri dalam bentuk mengeluarkan pikiran dan perasaannya untuk dapat mengemukakan pendapat khususnya pada pemerintah.
Kemajuan teknologi informasi dewasa ini mengakibatkan efek yang sangat luas, termasuk di dalamnya media, ekonomi dan politik. Derasnya perubahan arus globalisasi mendorong untuk pemahaman mendalam terhadap perkembangan media, ekonomi dan politik. Media adalah institusi sosial yang berkaitan dengan kekuasaan/kekuatan dan pengaruh persuasif. Media massa merupakan saluran, yang menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh atau berpencar-pencar, sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu. Oleh karena itu bukan tidak mungkin bahwa terdapat kajian mengenai media dalam perspektif ekonomi dan politik.
B. ISI
1. Media
Istilah “media” berasal dari kata Latin medium-ii,
yang bearti sesuatu di antara. Selain itu juga bermakna sesuatu yang muncul
secara publik, atau milik publik atau mediasi dan karenanya merujuk pada sebuah
ruang publik. Demikian esensi dari media tidak bisa dipisahkan dari persoalan
antara ranah publik dan privat, yang kerap kali problematis. Media memediasi kedua
ranah itu untuk mencari kemungkinan atau ketidak-mungkinan terhadap hidup
bersama.
Media adalah alat untuk menyampaikan
pesan, menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi,
film, dan sebagainya. Terdapat berbagai macam media yang ada saat ini
diantaranya[1]:
1. Media
massa cetak, yang merupakan media yang dicetak dalam bentuk lembaran kerras
yang berbentuk surat kabar, tabloid, majalah, buku, dan lain lain.
2. Media
massa elektronik, yang informasinya disalurkan melalui suara atau gambar dengan
menggunakan teknologi, seperti radio, televisi dan film.
3. Media
massa online, yang merupakan jenis media baru yang mudah diakses oleh banyak
khalangan seperti instagram, facebook, twitter, dan lain-lain.
Media saat ini berusaha dengan gayanya
untuk memberikan gambaran dari sebuah kehidupan yang harus terungkap, sehingga
publik dapat menilai dan memutuskan bagaimana harus bersikap. Media sebagai jembatan
bagi masyarakat dengan pemerintah.[2]
2. Media
dalam Perspektif Ekonomi dan Politik
Pola hubungan antara media dengan ekonomi dan politik
pada era globalisasi semakin kuat adanya. Pola hubungan itu tentu saja akan
dipengaruhi oleh sistem politik yang dianut oleh negara di mana media massa menjalankan
aktivitasnya. Sistem ekonomi dan media massa, sebagai bagian dari sistem
politik pasti akan tergantung dan dipengaruhi oleh sistem politik tersebut.[3]
Proses pemberitaan media di Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan proses politik yang berlangsung dan akumulasi modal yang
dimanfaatkan sebagai sumber daya. Dimana proses ekonomi politik dalam media
akan membentuk dan dibentuk melalui proses produksi, distribusi dan konsumsi
media itu sendiri. Dari perspektif ekonomi dan politik, institusi media massa
dianggap sebagai sistem ekonomi yang berhubungan erat dengan sistem politik. Mereka
juga menganalisa secara penuh pada tangan publik.[4]
Terdapat tiga konsep penting dalam ekonomi dan politik,
yaitu pertama adalah Komodifikasi. Hal ini
berhubungan dengan proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya
menjadi sebuah komoditas yang memiliki nilai tukar di pasar. Walaupun produk
media umumnya adalah sebuah informasi atau hiburan. Sebagai contohnya media
dilibatkan dalam memproduksi dan mendistribusikan ke konsumen yang beragam.
Konsumen itu bisa jadi adalah khalayak yang membaca
media cetak, menonton televisi, pendengar radio atau yang memiliki kepentingan
lain. Nilai tambah akan ditentukan oleh sejauh mana produk media dapat memenuhi
kebutuhan individual maupun sosial. Yang selanjutnya adalah Spasialisasi, hal
ini berkaitan dengan media yang mampu menyajikan produknya di depan pembaca
dalam batasan ruang dan waktu.
Struktur kelembagaan media menentukan perannya di
dalam memenuhi jaringan dan kecepatan penyampaian produk media di hadapan
khalayak. Perbincangan mengenai spasialisasi berkaitan dengan bentuk lembaga
media. Apakah berbentuk korporasi yang berskala besar atau tidak, apakah
memiliki jaringan, apakah bersifat monopoli dan lainnya.
Dan yang terakhir adalah strukturasi yang merupakan
serangkaian hubungan sosial dan proses kekuasaan yang diorganisasikan di antara
kelas, gender, ras, dan gerakan sosial masing-masing yang berhubungan satu sama
lain. Sebagai contohnya strukturasi digambarkan sebagai proses di mana struktur
sosial saling ditegakkan oleh para agen sosial, dan bahkan masing masing bagian
dari struktur mampu bertindak melayani bagian yang lain.[5]
Industri media telah tumbuh dengan kecepatan yang bagus
namun tidak semua dapat bertahan. Dalam media kelangsungan hidupnya ditentukan
oleh konteks ekonomi politik. studi ekonomi politik media melihat bahwa isi dan
maksud yang terkandung dalam dalam pesan-pesan media ditentukan oleh dasar
ekonomi dari organisasi media yang menghasilkannya.
Hal ini mengakibatkan berkurangnya sumber media yang independen, konsentrasi pada khalayak yang lebih luas, menghindari risiko, dan mengurangi penanaman modal pada tugas media yang kurang menguntungkan. Pada sisi lainnya, media juga akan mengabaikan kepentingan khalayak potensial yang kecil dan miskin, karena dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan terhadap kelompok masyarakat minoritas, cenderung tidak seimbang.[6]
C.
PENUTUP
Ekonomi politik media telah menjadi fenomena baru
dalam indutri media di Indonesia pasca reformasi. Dimana sistem media
berhubungan dengan sistem sosial, politik dan ekonomi. sistem media massa
mempunyai korelasi terhadap sistem sosial, politik yang berlaku di negara di
mana media beroperasi. Kendali politik dan ekonomi selalu menjadi faktor
signifikan yang berpengaruh terhadap operasi media. Sementara kepentingan
politik dan pasar sama-sama mengedepan, maka rakyat yang meliputi penonton atau
konsumen media dalam hal ini menjadi target atau komoditas industri media.[7]
Organisasi media komersial harus memahami kebutuhan para pengiklan dan harus menghasilkan produk yang sanggup meraih pemirsa terbanyak. Ekonomi politik adalah pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media. Melihat hal ini maka institusi media merupakan sebagai bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan erat kepada sistem politik.
DAFTAR PUSTAKA
Cangara. (1998).
Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Atmodjo,
Juwono Tri, Media Massa dan Ruang Publik, Jurnal Visi Komunikasi, Vol.
14, No. 2, November. 2015.
Alfani,
Hendra, “Perspektif Kritis Ekonomi Politik Media”, Jurnal Ilmu Komunikasi,
Vol. 2, No. 2. 2014.
Alfarabi, Kajian
Komunikasi Kritis Terhadap Ekonomi Politik Media, Jurnal Idea Fisipol UMB. Vol. 4 No. 17. Juni 2010.
Vincent.
Mosco. (1996)The Political Economy of Communication. London. Sage
Publication.
Poti. Jamhur Ekonomi Politik, Media dan Ruang
Publik, Jurnal Semiotika, Vol. 13. No. 2.
Subiakto.
Ida. 2012. Komunikasi Politik, Media & Demokrasi. Jakarta. Kencana
Prenada Media Group.
[1] Cangara,
Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 126-127
[2] Juwono Tri
Atmodjo, Media Massa dan Ruang Publik, Jurnal Visi Komunikasi, Vol. 14,
No. 2, November 2015, 223
[3]
Hendra Alfani, “Perspektif Kritis Ekonomi Politik Media”, Jurnal
Ilmu Komunikasi, Vol. 2, No. 2, 2014, 1
[4] Alfarabi, Kajian Komunikasi Kritis
Terhadap Ekonomi Politik Media, Jurnal Idea Fisipol UMB, Vol.
4 No. 17, Juni 2010, 2
[5] Vincent Mosco, The Political
Economy of Communication, (London: Sage Publication, 1996), 139
[6] Jamhur
Poti, Ekonomi Politik, Media dan Ruang Publik, Jurnal Semiotika, Vol.
13, No. 2, 204
[7] Subiakto,
Ida, Komunikasi Politik, Media & Demokrasi, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2012), 132
Tidak ada komentar:
Posting Komentar