Makalah
Mata Kuliah Studi Al-Qur’an
Dosen:
Prof.
Dr. Moch. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun Oleh:
Alfiarany
Choirun Nisa
(B95219085)
JURUSAN
ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS
DAKWAH & KOMUNIKASI
UIN
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA
PENGANTAR
Pertama,
marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. serta shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. berkat limpahan dan rahmatnya makalah
ini dapat terselesaikan dengan baik
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an. Seperti yang diketahui,
Al-Qur’an adalah panutan dan pedoman bagi seluruh umat muslim.
Saya
mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata
kuliah Studi Al-Qur’an yang telah membimbing dan memberikan pengarahan selama
proses pembuatan makalah ini. Terima kasih juga kepada pihak-pihak lain yang
ikut serta dalam membantu menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun agar menjadi acuan dalam pengalaman saya untuk
lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pembaca.
Surabaya, 26
Agustus 2019
Alfiarany Choirun
Nisa
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………….............................…..... ii
DAFTAR ISI ……………………................…………………… iii
BAB I PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Surat Al-Qur’an…............................................….….. 1
B.
Macam-macam
surat…………………....................................…..6
C.
Penamaan
Surat dalam Al-Qur’an……........................................10
D.
Penentuan
urutan surat-surat Al-Qur’an…...............................….11
BAB II KESIMPULAN…………………........................………
26
DAFTAR
PUSTAKA……………….............................…………39
BAB
I
PEMBAHASAN
Secara etimologi atau dari segi bahasa,
kata surat berarti kedudukan, kemuliaan, tempat yang tinggi, atau
bangunan-bangunan yang tinggi dan indah. Pengertian ini menyiratkan kedudukan
dan posisi Al-Qur’an yang tinggi, karena ia diturunkan dari tempat yang tinggi
yaitu al-lauh al-mahfuzh, dari sisi
Tuhan yang Maha Tinggi pula yakni Allah SWT[1].
Pengertian
seperti ini terdapat dalam puisi karya Nabighah yang berbunyi:
Tidakkah engkau tahu bahwa Allah
telah memberimu “surat’’, (bangunan tinggi)
Setiap raja melihat dari bawahnya
seraya menggeleng-gelengkan kepala[2]
Dalam
studi Al-Qur’an, definisi surat adalah kumpulan ayat Al-Qur’an yang berdiri
sendiri dengan batas permulaan (mathla’)
dan batas akhir (maqtha’).[3]
Selain di atas terdapat juga
definisi-definisi surat yang dapat kita ketahui, antara lain:
1.
Abu
‘Ubaidah
(1.)
Surat adalah bagian dari Al-Qur’an yang dipisahkan
dari bagian yang lainnya, dan dibiarkan berdiri sendiri, dan kemudian menjadi
satuan yang memuat sejumlah ayat Al-Qur’an dan mempunyai nama tersendiri pula.
(2.)
Surat adalah bagian dari Al-Qur’an yang
minimal terdiri dari tiga ayat.[4]
2.
Surat
adalah sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[5]
3.
Surat
adalah sekumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga
ayat yang mempunyai permulaan dan penutupan.[6]
4.
Surat
adalah bagian dari Al-Qur’an yang memiliki nama dan jumlah ayat tertentu.[7]
5.
Surat
adalah bab atau bagian, khususnya salah satu dari 114 Surat yang membentuk Al
Qur’an.[8]
6.
Surat artinya mulia atau derajat atau tingkat dari
sebuah bangunan. Surat disebutnya dari bagian Al-Qur’an ini menunjukkan karena
kemuliaannya.[9]
Jika diperhatikan secara sungguh-sungguh, surat dalam pengertian seperti
yang disebutkan di atas memuat beberapa kepentingan. Di antaranya:
a. Siapa yang membacanya dengan sungguh-sungguh dan
memperhatikan segala isi muatannya, niscaya ia akan memperoleh berbagai tingkat
dalam ilmu pengetahuan.
b. Surat-surat dalam Al-Qur’an itu menjadi tanda
permulaan dan penghabisan untuk setiap bagian tertentu dari Al-Qur’an.
c. Surat-surat dalam Al-Qur’an laksana gedung-gedung
atau bangunan yang sangat indah yang di dalamnya memuat berbagai ilmu
pengetahuan dan hikmah.
d. Setiap surat mengandung beberapa hal yang lengkap
dan sempurna.
e. Setiap surat Al-Qur’an satu sama lain berhubungan
erat, tidak dapat dipisahkan antara yang satu dari lainnya seakan-akan
merupakan tangga yang bertingkat-tingkat.[10]
Para ahli ilmu Al-Qur’an berbeda-beda dalam mendefinisikan surat di antaranya:
طائفة مستقلة من ايات القران ذات طلع ومقطع
Artinya: “Sekelompok atau
sekumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan
dan penghabisan”.
Manna
Khalil mendefinisikan surat sebagai berikut:
السورة : هى الجملة من ايات القران ذات المطع والمقطع
Artinya:
Surat adalah kumpulan atau jumlah
ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki permulaan dan akhiran.[11]
Dari
definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa surat adalah kumpulan beberapa
ayat, maka tidak ada surat yang terdiri hanya satu ayat. Ia harus memiliki
sejumlah ayat , minimal tiga ayat seperti surat al-Kausar [108]. Sekumpulan
ayat dapat dinamakan surat dengan syarat mempunyai permulaan dan akhiran. Jika
terkumpul sejumlah ayat, tetapi tidak ada permulaan atau akhiran/tidak ada
keduanya, maka tidak dapat dinamakan surat Al-Qur’an.
Surat
berbeda dengan sub-bab dalam suatu buku, karena surat dalam Al-Qur’an berdiri
sendiri. Surat dalam Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sama, dan memiliki keunikan
dan keistimewaan tersendiri.
Surat
Al-Qur’an yang memiliki nama dan jumlah ayat tertentu dimaksudkan untuk
memudahkan upaya memahami dalam mencari pembahasan atau penguasaan yang
bersifat hafalan. Di dalam surat-surat Al-Qur’an penggunaan istilahnya
dikaitkan dengan pengaruh yang diakibatkan terhadap keyakinan manusia, dan
sebagai sarana pertentangan bagi manusia yang menganggap remeh Al-Qur’an dan
mengingkarinya. [12]
Gambarannya
dapat dilihat dalam pengungkapan ayat Al-Qur’an berikut.
وَاِ ذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ
زَا دَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَا نًا ۚ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَا دَتْهُمْ
اِيْمَا نًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
"Dan apabila diturunkan suatu surat maka di
antara mereka (orang-orang munafik ada yang berkata, Siapakah di antara kamu
yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang
beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 124)
وَاِ نْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا
فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَا دْعُوْا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ
اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang
Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal
dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang
yang benar." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)
1.
Dari
segi nama:
Dari segi namanya,
surat Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi tiga:
a.
Surat
yang hanya memiliki satu nama, seperti Surat an-Nisa’[4], Thaha [20], al-A’raf
[7], dan sebagainya. Banyak surat di dalam Al-Qur’an yang termasuk di jenis
ini.
b.
Surat
yang memiliki lebih dari satu nama, seperti surat al-Fatihah [1] disebut juga Ummul
Kitab, Surat at-Taubah [9] yang disebut juga al-Ba’arah, Surat al-Isra’ [17]
yang disebut juga Surat Bani Israil, dan lain-lain.
c.
Beberapa
surat dengan satu nama, yaitu Surat al-Mu’awwidzatain
untuk surat al-Falaq [113] dan an-Nas [114], surat al-Hawamim untuk surat-surat yang didahului oleh kata Ha-mim, Surat al-Zahrawayn untuk Surat
al-Baqarah [2] dan Surat Ali ‘Imran [3].
2.
Dari jumlah ayatnya:
Jumlah
surat dalam Al-Qur’an adalah 114 surat. Jika surat al-Anfal [8] dan at-Taubah
[9] dijadikan satu surat, maka jumlahnya 113 surat.[13]
Surat-surat
dalam Al-Qur’an dari segi panjang pendeknya terbagi menjadi empat macam:
a.
Surat
ath-thiwa (panjang), yaitu surat yang
jumlah ayatnya lebih dari 100 sampai 200 atau lebih Panjang daripada yang lain.
Surat Panjang ini ada tujuh surat, sering disebut juga dengan istilah ‘’Tujuh
Surat Panjang’’[14],
yaitu Surat al-Baqarah [2] (285 ayat), Surat Ali’ Imran [3] (200 ayat), Surat
an-Nisa’ [4] (176 ayat), Surat al-Ma’idah [5] (120 ayat), Surat al-An’am [6] (165
ayat), Surat al-A’raf [7] (206 ayat), serta Surat at-Taubah [9] (204 ayat).
b.
Surat
al-Mi’un (seratusan), yaitu surat yang jumlah ayatnya terdiri
sekitar 100 ayat. Kelompok surat ini berada di tengah antara surat-surat
panjang dan surat-surat pendek, seperti Surat Hud [11] (123 ayat), Surat Yusuf [12]
(111 ayat), Surat al-Mu’minun [23] (118 ayat), dan sebagainya.[15]
c.
Surat
al-matsani, yaitu surat yang panjang
ayatnya namun di bawah al-mi’un (seratusan ayat, seperti surat
al-Anfal [8] (75 ayat), al-Hijr [15] (99 ayat), dan sebagainya.
d.
Surat
al-munfashshal, yaitu surat-surat
yang ayat-ayatnya mendekati jumlah surat al-matsani,
ia juga disebut dengan surat pendek. Surat-surat pendek dimulai dari Surat
al-Hujurat [49] yang berjumlah 18 ayat sampai akhir surat dalam Al-Qur’an yaitu
surat an-Nas [114] (6 ayat). Di dalam kelompok ini, surat yang terpendek adalah
Surat al-Zalzalah [99] hingga Surat an-Nas [114].
Al-munfashshal
berasal dari kata fashala yang berarti memisah atau
terpisah. Sebuah surat dinamakan al-munfashshal
karena jumlah ayatnya tidak terlalu banyak, sehingga sering dipisah dengan basmalah. Surat al-munfashshal ini dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu:
1)
Thiwal (panjang), yaitu
surat al-munfashshal yang panjang, ia
terdiri dari surat Qaf [50] (45 ayat), atau dari surat al-Hujurat [49] (18
ayat) sampai dengan surat an-Naba’ [78] (40 ayat) atau surat al-Buruj [85] (22
ayat).
2)
Awsath (pertengahan),
yaitu al-munfashshal yang jumlah
ayatnya tidak terlalu banyak atau panjang, ia terdiri dari surat ath-Thariq
[86] (17 ayat) sampai dengan surat ad-Dhuha [93] (11 ayat), atau al-Bayyinah
[98] (8 ayat).
3)
Qishar (pendek), yaitu
surat-surat al-munfashshal yang
pendek, dimulai dari surat ad-Dhuha [93] (11 ayat) atau al-Bayyinah [98] (8 ayat) sampai dengan
akhir surat dalam Al-Qur’an yakni an-Nas [114] (6 ayat).[16]
Pembagian surat seperti ini dapat
mempermudah orang dalam menghafalkannya, mendorong mereka untuk mengkaji dan
mengingatkan pembaca surat bahwa ia telah mengambil bagian yang cukup dan
jumlah yang memadai dari pokok-pokok agama dan hukum-hukum syari’at.[17]
Adapun
terkait jumlah surat pada Al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Menurut
mayoritas ulama, surat dalam Al-Qur’an berjumlah sebanyak 114 surat, tetapi
sebagian ulama menghitungnya 113 surat. Kelompok terakhir ini menganggap surat
al-Anfal [8] dan at-Taubah [9] satu surat karena tidak adanya pemisah (basmalah) antara kedua surat tersebut,
karena itulah jumlah surat menjadi 113 surat. Kendati demikian, pendapat yang
kuat menurut jumhur ulama adalah pendapat pertama.[18]
Sementara itu, golongan Syi’ah meyakini bahwa surah dalam
Al-Qur’an berjumlah 116 surat, karena mereka memasukkan dua doa qunut yang juga
dikenal dengan nama Surah al-Khal dan al-Hafd. Menurut Al-Baqillani dalam
kitabnya yang bernama I’jaz Al-Qur’an memang pernah ditulis oleh Ubay bin Ka’ab
di mushaf Al-Qur’an, oleh karena itu timbul dalam golongan ini bahwa keduanya
masuk sebagai surat Al-Qur’an. Namun, menurut mayoritas ulama, dua doa Qunut
tersebut adalah doa, bukan ayat Al-Qur’an.
Di
dalam Al-Qur’an adapun surat yang terbanyak jumlah suratnya adalah Surat
Al-Baqarah [2], yang terdiri dari 286 ayat. Sedangkan surat yang terpendek
adalah Surat al-Kausar [108] yang terdiri dari 3 ayat.[19]
Setiap surat dalam al-Qur’an memiliki nama tersendiri
yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. secara tauqifi. Ini diketahui
berdasarkan keterangan yang terdapat dalam beberapa buah hadis dan riwayat
bahwa nama pada surat tersebut diberi nama oleh Rasulullah SAW. sendiri. [20]Pemberian
nama pada surat Al-Qur’an didasarkan pada:
1.
Diambil dari
luar surat, yang artinya nama surat diambil dari kata yang tidak terdapat di
surat tersebut. Seperti surat yang pertama dinamai al-Fatihah [1] tidak
ditemukan di dalam ayat-ayatnya, namun nama tersebut memberikan petunjuk tentang
fungsinya sebagai Fatihah (pembukaan atau pendahuluan) bagi Al-Qur’an.[21]
2.
Kandungan
surat. Misalnya Surat Nuh [71] yang mengisahkan Nabi Nuh AS;
3.
Kata
pembuka surat. Misalkan surat al-Qari’ah [101] dari kata ‘’ al-Qa-ri-ah’’ pada awal surat.
4.
Fungsi
surat. Misalnya surat al-Ikhlas [112] yang berfungsi permunian (ikhlas) tauhid dan keimanan.
5.
Salah
satu kata yang ada dalam suatu surat. Misalnya Surat al-Alaq [96] dari kata “Alaq” pada ayat kedua.[22]
Selain itu nama tersebut dapat diambil baik itu
terletak di permulaan, di tengah, atau di bagian akhir surat. Misalnya surat
ke-20, dinamai dengan Thaha. Kata Thaha tersebut sudah dijumpai pada ayat
pertama dari. Surat ke-2 dinamai dengan al-Baqarah. Kata al-Baqarah baru
dijumpai pada ayat ke-67, dari surat bersangkutan. Selanjutnya surat ke-107,
dinamai dengan al-Ma’un, padahal kata al-Ma’un ini baru dijumpai pada akhir
ayat yang terdapat pada akhir surat bersangkutan[23]
Dalam
peletakan surat-surat Al-Qur’an, surat-surat pendek diletakkan pada bagian
akhir, kecuali Surat al-Fatihah [1] (7 ayat) yang diletakkan di bagian paling
depan.[24]
Terdapat
beberapa pendapat tentang peletakan surat ini. Di antaranya adalah:
1.
Menurut
salah satu pendapat, urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat taufiqi, didata langsung oleh Rasulullah SAW. seperti yang
diberitahukan oleh Jibril yang bersumber dari perintah Rabbnya.
Dengan demikian,
Al-Qur’an pada masa nabi sudah diatur urutan surat-suratnya. Al-Kirmani
mengatakan bahwa susunan surat dalam Al-Qur’an tersebut sesuai dengan susunan
surat Al-Qur’an pada Lauh Mahfudz. Nabi Muhammad SAW. selalu memperlihatkannya
kepada Jibril setiap tahun. Pada tahun menjelang wafatnya beliau, Nabi SAW.
memperlihatkannya kepada Jibril sebanyak dua kali. [25]
Diriwayatkan dari jalur Ibnu Wahab,
dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, ‘’Aku mendengar Rabi’ah ditanya ‘’Kenapa
al-Baqarah [2] dan Ali’ – Imran [3]
didahulukan padahal ada delapan puluh sekian surat Makkiyah dan yang diturunkan
sebelumnya, dan keduanya baru diturunkan di Madinah?’’ Rabi’ah menjawab,
‘’Keduanya sudah didahulukan ketika Al-Qur’an disusun (dikumpulkan) sesuai ilmu
zat yang menyusunnya (mengumpulkannya)’’. Setelah itu ia berkata “Ini sudah
diputuskan sebelumnya dan tidak boleh ditanyakan”.
Ibnu Hishar berkata,
“Urutan-urutan surat Al-Qur’an dan tata letak ayat-ayatnya ditetapkan melalui
wahyu. Rasulullah SAW. pernah bersabda ‘’Letakkan ayat ini ditempat ini..”.
Urutan surat dan tata letak ayat Al-Qur’an mencapai derajat yakin berdasarkan
penukilan mutawatir dari bacaan Rasulullah SAW. dan apa yang telah disepakati
oleh para sahabat terkait tata letak surat dan ayat tersebut dalam mushaf.[26]
Rasulullah SAW.
juga telah membaca beberapa surat secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi
Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surat munfassal (surat-surat pendek) dalam
satu rakaat. Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang
surat Bani Isra’il [17], al-Kahfi [18], Maryam [19], Ta Ha [20] dan al-Anbiya
[21]: ‘’Surat-surat itu termasuk yang diturunkan di Mekah dan yang pertama-tama
yang aku pelajari. ‘’Kemudian ia menyebutkan surat-surat itu secara berurutan
sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini. [27]
2.
Menurut
Imam al-Suyuti, Imam Malik, dan Abu Bakar al-Thayyib, urutan surat adalah hasil
pemikiran para sahabat ketika menulis Mushaf Al-Qur’an.[28]
Buktinya, urutan
surat berbeda-beda dalam mushaf mereka. Mushaf diurut sesuai turunnya ayat-ayat
dan surat-surat. Dimulai dari bagian awal surat al-Alaq [96], lalu al-Muddassir
[74], setelah itu Nuh [71], al-Qalam [68], al-Muzzammil [73], dan begitu
seterusnya, hingga akhir ayat dan surat Makkiyah dan Madaniyah.
Mushaf Ibnu Mas’ud dimulai dari
surat al-Baqarah [2], setelah itu an-Nisa [4], kemudian setelah itu Ali ‘Imran
[3].
Bagian awal mushaf Ubay bi Ka’ab
adalah al-Fatihah [1], selanjutnya al-Baqarah [2], berikutnya an-Nisa [4],
kemudian Ali ‘Imran [3].
Ibnu Abbas meriwayatkan, ia berkata
“Aku bertanya kepada Utsman, “Kenapa kau menggandengkan al-Anfal [8] yang
termasuk matsani (golongan surat yang
diulang) dengan at-Taubah [9] yang termasuk mi’in
(golongan surat yang ayatnya berjumlah seratus atau mendekati seratus)
tanpa menulis basmalah di antara
keduanya, dan engkau meletakkan surat tersebut di golongan tujuh surat yang
panjang-panjang?’’ Ia menjawab, ‘’surat-surat yang memiliki jumlah ayat yang
panjang turun kepada Rasulullah SAW. ketika ada beberapa ayat turun, beliau
memanggil sebagian orang yang bisa menulis lalu berkata, “Letakkan ayat ini di surat yang di dalamnya ada ini dan itu.’’
al-Anfal [8] adalah surat yang pertama yang turun di Madinah, dan at-Taubah [9]
termasuk bagian dari Al-Qur’an yang terakhir turun. Kisahnya mirip seperti
kisah al-Anfal [8] , sehingga aku mengiranya sebagai bagian dari al-Anfal [8].
Setelah itu Rasulullah SAW. wafat tanpa menjelaskan kepada kami bahwa at-Taubah
[9] bagian dari al-Anfal [8]. Karena
itulah aku menggandengkan di antara keduanya tanpa aku tuliskan baris basmalah di antara keduanya, dan aku
meletakkannya di golongan tujuh surat yang panjang-panjang.[29]
Berdasarkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Astah dari Ismail
bin Abbas dari Hibban bin Yahya dari Abu Muhammad al-Qurashi, ia berkata:
امر هم عثمان ان يتابعوا الطوال فجعل س ورة النفال وسورة
التوبة في السبع ولم يفصل
ينهما ببسم الله الر عمن الر حيم
Artinya: “Usman memerintahkan
kepada para sahabat agar mengurutkan surat-surat yang panjang. Kemudian ia
menjadikan surat al-Anfal [8] dan surat At-Taubah [9] di dalam kelompok “tujuh” dan surat yang
ketujuh. Dan ia tidak memisahkan antara al-Anfal [8] dan At-Taubah [9] dengan basmalah”.
3.
Abu
Muhammad bin ‘Athiyyah dan Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa sebagian besar
surat Al-Qur’an diurutkan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. dan sebagian yang lain
hasil pemikiran para sahabat. Menurut Baihaqi, susunan Al-Qur’an yang ada
sekarang sama seperti zaman Nabi Muhammad SAW, baik surat maupun ayatnya,
kecuali Surat Al-Anfal [8] dan At-Taubah
[9].[30]
Sebab,
ada riwayat yang menunjukkan urutan beberapa surat pada masa Nubuwah, karena
riwayat menunjukkan urutan tujuh surat yang panjang, surat-surat yang dimulai
dengan Ha’ mim, dan surat-surat munfashshal pada masa hidup Nabi SAW.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW.
bersabda :Bacalah mu’awwidzatain
al-Baqarah [2] dan Ali ‘Imran [3].
Diriwayatkan bahwa ketika beliau
hendak merebah ke tempat tidur di setiap malam. Beliau menyatukan kedua telapak
tangan beliau, lalu beliau meniup keduanya, lalu beliau membaca “Qul huwallahu ahad..” dan mu’awwidzatain (al-Falaq [113] dan
an-Nas[114].
Ibnu Hajar berkata, “Urutan sejumlah
surat atau sebagian besar di antaranya
tidaklah menafikan jika urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat tauqifi. Ibnu Hajar memperkuat
pernyataannya ini dengan hadits Hudzaifah Ats-Tsaqafi. Dalam hadits ini
disebutkan bahwa Rasulullah SAW. berkata kepada kami, “Terlintas di pikiranku
sebuah hizb (golongan surat-surat)
dari Al-Qur’an, hingga aku tidak ingin pergi sebelum menyelesaikannya.” .
Kemudian, kami bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. “Bagaimana cara
kalian menggolongkan (Surat-surat) Al-Qur’an?’’. Mereka menjawab, “Kami
menggolongkannya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat,
sebelas surat, tiga belas surat, golongan surat-surat munfashshal dari Qaf [50] hingga
akhir.”
Ibnu Hajar berkata, “Ini menunjukkan
bahwa urutan surat-surat seperti yang tertera di dalam mushaf saat ini sudah
ada pada masa Rasulullah SAW. Ia berkata, “Kemungkinan surat-surat yang
berurutan saat itu adalah golongan surat-surat mufashshal secara khusus, berbeda dengan surat-surat lainnya.”
Dari ketiga pendapat ini, pendapat
yang pertama memiliki dasar yang lebih kuat. Imam al-Bukhari meriwayatkan
beberapa hadis yang dikumpulkan dalam bab penataan Al-Qur’an. Ada hadis lain
dalam bab tersebut yang menunjukkan bacaan secara urut mengenai surat-surat
pendek, surat-surat yang didahului dengan kata Ha-Mim (surat nomor 40-46),
serta surat-surat nomor 17-21. Selain itu, pembacaan Al-Qur’an sampai selesai sering
dilakukan Nabi Muhammad SAW, baik dihadapan malaikat Jibril maupun di hadapan
para sahabat. Tentu dalam bacaan ini, Nabi SAW membaca secara urut. Alasan lain
adalah penerimaan para sahabat atas Mushaf Al-Qur’an yang dibuat secara resmi
oleh Khalifah Utsman bin Affan RA, termasuk Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab,
dan Abdullah bin Mas’ud. Ketiga sahabat ini pernah memiliki Mushaf Al-Qur’an
yang urutan suratnya berbeda dengan surat Mushaf Al-Qur’an yang resmi. Jika
urutan syurat buka sebagai petunjuk Nabi SAW, tentu mereka enggan untuk
menerima urutan surat dalam Mushaf AL-Qur’an yang resmi.
Alasan lainnya
sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim al-Ibyariy sebagai berikut: “Sebagian
ulama salaf berpendapat bahwa urutan surat-surat Al-Qur’an adalah berdasar
petunjuk Nabi SAW, karena datangnya surat Hawaamiin
yaitu surat-surat yang diawali dengan kata Ha-Mim disusun secara tertib. Demikian juga surat Thawaasiin yaitu surat-surat yang
diawali dengan kata Tha-Sin. Juga surat al-musabbihat
yaitu surat-surat yang diawali dengan kata subbana, sabbaha, yusabbihu, sabbih, tidak tersusun secara
urut, bahkan terpisah-pisah antara satu surat dengan surat yang lain. Letak
surat al-Qashash [28] dengan awalan Tha-Sin-Mim
dan Surat an-Naml [27] dengan awalan Tha-Sin
diletakkan secara terpisah. Padahal surat al-Qashash [28] itu lebih pendek
daripada Surat an-Naml [27]. Seandainya itu hasil pemikiran para sahabat Nabi
SAW niscaya surat al-musabbibat yaitu
surat-surat yang diawali dengan kalimat tasbih disebutkan secara urut, dan
surat-surat yang diawali dengan kalimat tasbih
disebutkan secara urut, dan Surat an-Naml [27] yang terdiri dari ayat yang
lebih sedikit diletakkan lebih akhir daripada Surat al-Qashash [28]”.
Asy Syihristany Muhammad Ibnu ‘Andi
IKarim dalam tafsirnya ‘’MAFATIHU ;’’ASRAR WA MASHABIHI L’’ABRAR’’, ketika
membahas firman Allah[31]:
ولقد اتيناك سبعا من المشا نى
“Dan sesungguhnya Kami telah memberimu tujuh
ayat yang dibaca berulang-ulang”
Ia
mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan tujuh ayat ialah tujuh surat yang
panjang yaitu, Al-Baqarah [2], Ali ‘Imran [3], An Nisa [4], Al-Maidah [5], Al
An’am [6], Al A’raf [7], dan Yunus [10]. Oleh para ulama keterangan tersebut
dijadikan bukti bahwa susunan surat-surat itu adalah tauqifi.[32]
Sedangkan
pendapat yang kedua yang menyatakan urutan surat-surat Al-Qur’an berdasarkan
pemikiran sahabat nabi tersebut tidak berstandar kepada dalil yang menjadi
acuan.
Adanya
beberapa sahabat yang menyusun mushaf-mushaf pribadi, itu semata-mata atas
kemauan mereka sendiri sebelum Al-Qur’an dikumpulkan menjadi satu secara urut.
Selanjutnya, setelah surat Al-Qur’an disatukan pada masa Utsman dengan urutan
ayat-ayat dan surat-surat dengan satu bahasa dan umat bersatu di atas mushaf
tersebut, mereka meninggalkan mushaf-mushaf pribadi tersebut. Andaikan urutan
ayat dan surat berdasarkan pemikiran beberapa sahabat nabi, tentu mereka ini
tetap berpegangan pada mushaf pribadi masing-masing.
Selain itu, mushaf yang dimiliki oleh para sahabat
pada waktu itu bukanlah sebagai acuan atau untuk konsumsi umum yang dijadikan
pedoman semua umat Islam, akan tetapi para sahabat menulis mushaf tersebut
untuk konsumsi pribadi agar mempermudah ketika ingin membaca, mempelajari
ataupun mengkaji al-Qur’an.[33]
Terkait
pendapat ketiga yang menyatakan urutan sebagian surat bersifat tauqifi dan urutan sebagian surat
lainnya berdasarkan ijtihad,
dalil-dalil pendapat ini focus menyebut
nash-nash yang menunjukkan urutan surat-surat secara tauqifi. Sementara untuk bagian urutan surat-surat berdasarkan ijtihad tidak ditopang dalil yang
menunjukkan urutan atas hasil ijtihad tersebut, karena adanya urutan tauqifi berdasarkan dalil-dalil bukan
berarti menunjukkan selain itu berdasarkan hasil itjihad. Itupun hanya sedikit sekali.
“Dengan
demikian menurut pendapat yang kuat, urutan surat-surat Al-Qur’an bersifat tauqifi, sama seperti urutan ayat-ayatnya.”
Abu Bakar bin Al-Anbari berkata, “Allah menurunkan
Al-Qur’an secara keseluruhan ke langit yang paling bawah (langit dunia).
Setelah itu, Allah SWT menurunkannya berangsur-angsur selama dua puluh sekian
tahun sebagai jawaban untuk orang-orang yang bertanya. Jibril menunjukkan
kepada Nabi SAW, tempat ayat dan surat, sehingga surat-surat tersusun seperti
susunan ayat-ayat dan huruf-huruf. Semuanya berasal dari Nabi SAW. Oleh
karenanya, barang siapa mendahulukan atau mengakhirkan suatu surat, maka ia
telah merusak rangkaian Al-Qur’an.”[34]
Untuk lebih jelasnya, surat-surat yang diawali dengan
kata Ha-Mi disebutkan secara urut sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi SAW.
Surat-surat tersebut berurutan dari nomor 40-46 yaitu Surat al-Mu’min [40],
Fusshilat [41], al-Syura [42], al-Zukhruf [43], al-Dukhan [44], al-Jatsiyyah
[45], dan al-Ahqaf [46]. Ini berbeda dengan Surat al-Syu’ara [26] yang diawali
dengan ‘’Tha-Sin-Min’’, Surat an-Naml [27] dengan ‘’Tha-Sin’’, dan Surat
al-Qashash, lalu an-Naml. Hal yang sama juga terjadi pada Surat al-Shaff [61],
al-Jumu’ah [61], dan al-Taghabun [64]. Ketiga surat ini diawali dengan ‘’yusabbibihu lillaahi maa..”
Akan tetapi, susunan di
mushaf Al-Qur’an ternyata terdapat Surat al-Munafiqun [63] yang berada di
antara Surat al-Jum’ah [62] dan al-Taghabun [64]. Jadi urutan surat yang tidak
masuk akal ini menjadi bukti bahwa urutan surat benar-benar berdasar dari Nabi
SAW atas petunjuk Allah SWT melalui Malaikat Jibril AS.
Berbicara tentang urutan surat, sebagai seorang muslim
yang harus membaca Al-Qur’an urutan dalam membaca Al-Qur’an tidaklah bersifat tauqifi. Jadi, seseorang boleh membaca
Al-Qur’an diperbolehkan membacanya dari surat mana yang dia anggap mudah tanpa
ada keharusan urutan tertentu. Ini didasarkan atas hadis Khudzaifah yang
terdapat dalam Kitab Shahih, yang menerangkan bahwa Imam ‘Ali a.s. membaca
dalam shalat malamnya surat al-Baqarah [2], kemudian surat an-Nisa [4], lalu
surat ‘Ali Imran [3].
Selain itu seorang pembaca Al-Qur’an diperbolehkan
memulainya dengan ayat-ayat tertentu dalam surat tertentu tanpa ada keharusan
untuk menyelesaikannya secara lengkap, tetapi urutan-urutan ayatnya haruslah
urut.[35]
Bangunan Al-Qur’an yang terdiri dari beberapa surat ini
memiliki beberapa hikmah, antara lain:
1.
Menjadi
tantangan atas orang-orang yang tidak percaya dengan Al-Qur’an. Di antara
surat-surat Al-Qur’an, surat terpendek hanya terdiri dari tiga ayat. Al-Qur’an
menantang manusia untuk membuat surat yang sepadan, meski hanya surat
terpendek.
2.
Mempermudah
hafalan serta membangkitkan semangat membaca Al-Qur’an. Jika seorang pembaca mengkhatamkan satu surat atau satu juz, ia akan
merasa lebih senang dan lebih bersemangat untuk memperoleh hasil lagi, dan akan
memotivasinya untuk meneruskan membaca al-Qur’an[36]
3.
Terpancarnya
keagungan Al-Qur’an. Seseorang akan mendapatkan keangungan saat membaca
Al-Qur’an walaupun tidak membaca semuanya.
4.
Memperindah
susunan. Akan lebih indah jika dijadikan beberapa bagian dibandingkan dengan
satu bentuk.
5.
Setiap
surat dalam Al-Qur’an memiliki karakteristik dan keistimewaan masing-masing.[37]
6.
Bertahap dalam mengajari anak-anak atau seseorang,
dari surat-surat yang pendek sampai surat yang panjang, sebagai kemudahan dari
Allah.
Menurut
Nash Hamid Abu Zaid, pengkajian urutan surat yang terkait dengan tema kesesuaian
antara surat dan ayat adalah untuk pencarian hikmah dibalik pembuatan ayat yang
sesuai dengan ayat yang lain. Begitu pula pembuatan surat bersamaan dengan
surat lain dari sisi kandungan. Contohnya adalah al-Fatihah [1] yang menduduki
tempat khusus karena ia merepresentasikan pengantar dasar teks sebagai pembuka
atau Induk Al-Qur’an. Sebagai surat yang pertama gerakan awalnya adalah fungsi
surat al-Fatihah sebagai surat pembuka, pengantar dan sebagai induk Al-Qur’an
yang mengandung bagian penting dari pokok-pokok pembahasan Al-Qur’an yaitu
tauhid, peringatan, hukum-hukum.
Selain
itu, Nasr Hamid dalam melihat pembagian surat yang secara beruntun juga
menjelaskan antara kaitan surat sebelumnya dan surat selanjutnya. Lebih dalam
lagi keterhubungan antara pembagian urutan surat dalam mushaf menurut Nasr
Hamid adalah hubungan surat yang mendahulukan penjelasan yang universal yang
dijelaskan kemudian dalam surat-surat berikutnya mengenai hukum hukum secara
khusus, seperti surat An-Nisa dan Al-Maidah yang menjelaskan legislasi yang
berkaitan dengan hubungan sosial dan ekonomi.[38]
KESIMPULAN
Surat
adalah kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan akhiran. Surat
dalam Al-Qur’an mempunyai jumlah sebanyak 114 Surat. mengatakan surat terdapat
113 ayat karena tidak ada pemisah basmalah
di antara surat al-Anfal [8] dan at-Taubah [9]. Nama-nama surat dalam Al-Qur’an dinamai sendiri
oleh Rasulullah, surat panjang lebih banyak diletakkan
pada awal diikuti dengan surat dengan jumlah ayat menengah dan diikuti dengan
surat-surat pendek dibagian akhir.
Hikmah pembagian surat-surat dalam Al-Qur’an ini
adalah untuk mempermudah seseorang yang ingin belajar, menghafal dan
mengamalkan al-Qur’an. Selain itu memperindah dan memperlihatkan karakteristik
surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin S, Zainal. 1992. Seluk
Beluk Al-Qur'an. Jakarta: Bineka Cipta.
Al-Aththar,
D. 1994. Perspektif Baru Ilmu Al-Qur'an. Bandung: Pustaka Hidayah.
Al-Qaththan,
M. 2016. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an dan Hadits Jilid I. Jakarta:
Ummul Qura.
Al-Qattan,
M. K. 2011. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an. Bogor: Litera Antar Nusa.
Ansharuddin,
M. 2016. Telaah Historis. Sistematika Susunan Surat di dalam Al Qur'an.
Anshori.
2016. Ulumul Qur'an. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Asnawi,
Ahmad. 2010. Biografi Al-Qur'an. Jogjakarta: Diglossia Media.
Aziz,
Moh. Ali. 2019. Mengenal Tuntas Al-Qur'an. Surabaya: Imtiyaz.
Daming,
M. 2017. Keagungan Al-Qur'an. Makassar: Pustaka Zikra.
Ibrary,
Ibrahim. A. 1995. Pengenalan Sejarah Al-Qur'an. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Sensa,
M. Djarot. 2005. Komunikasi Qur'aniyah. Bandung: Pustaka Islamnika.
W,
A.-H. (n.d.). Kamus Al-Qur'an.
[2] Dawud Al-Athhar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Bandung,
Pustaka Hidayah, 1994, Cetakan pertama, halaman 175.
[3] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya 2019, Cetakan
keempat, halaman 74.
[7] Muhammad
Djarot Sensa, Komunikasi Qur’aniyah, Bandung,
Pustaka Islamnika, 2005, Cetakan pertama, halaman 66.
[9]Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam
Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume 2, Nomor 2, Desember 2016 halaman 211.
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Muhammad Djarot Sensa, Komunikasi Qur’aniyah, Bandung, Pustaka
Islamnika, 2005, Cetakan pertama, halaman 67.
[15] Zainal Abidin S. Seluk
Beluk Al-Qur’an, Jakarta, Bineka Cipta, 1992, Cetakan
pertama, halaman 8.
[20] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume
2, Nomor 2, Desember 2016 hal 215.
[22] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan
keempat, halaman 76.
[23] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume
2, Nomor 2, Desember 2016 halaman 216.
[24] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan
keempat, halaman 77.
[25] Ibid
[26]
Manna
Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu
Al-Qur’an dan Hadits Jilid 1, Ummul Qur;an, Jakarta, 2016, Cetakan pertama, Halaman 215.
[27] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Litera Antar
Nusa, Bogor, 2011, Cetakan ke-14, Halaman 208.
[28] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan
keempat, halaman 77.
[29]
Manna
Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu
Al-Qur’an dan Hadits Jilid 1, Ummul Qura, Jakarta, 2016, Cetakan pertama,
Halaman 215 dan 216.
[30] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya,, 2019, Cetakan
keempat, halaman 77.
[31]
Ibrahim Al Ibrary, Pengenalan
Sejarah Al-Qur’an, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1995, Cetakan ketiga,
Halaman 55.
[33] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume
2, Nomor 2, Desember 2016, halaman 213.
[34] Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an dan Hadits
Jilid 1, Ummul Qura, Jakarta, 2016, Cetakan pertama, Halaman 218.
[35] Dawud Al-Athhar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Bandung,
Pustaka Hidayah, 1994, Cetakan pertama, halaman 179 dan 180.
[36] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume
2, Nomor 2, Desember 2016,
halaman 219
[37] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ), Imtiyaz, Surabaya, 2019, Cetakan
keempat, halaman 79 & 80.
[38] Ansharuddin M, Sistematika Susunan Surat di dalam Al-Qur’an: Telaah Historis, Volume
2, Nomor 2, Desember 2016, halaman 219.

Alhamdulillah semoga bermanfaat ya dan menambah pengetahuan bagi para pembaca
BalasHapusBarakallah..ilmu yang sangat bermanfaat semoga kedepannya bisa sering menunggah materi materi lainnya
BalasHapusAlhamdulillah dengan tulisan ini saya lebih memahami tentang surat-surat Al-Qur'an, terimakasih :)
BalasHapusHalooo, thanks to mbak" yang sudah membuat tulisan ini. Alhamdulillah saya terbantu mencari referensi surat" al-quran untuk tugas saya.
BalasHapusSaranghae mbak" blog💜
Semoga dengan makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan bisa mengamalkan
BalasHapusBarakallah... dengan tulisan ini bisa menambah wawasan saya dan semoga bermanfaat untuk semuanya juga❣
BalasHapusAlhamdulillah setelah membaca makalah ini saya lebih memahami surat Al-Qur'an
BalasHapusAlhamdulillah, terima kasih yang sudah membuat makalah ini semoga saya bisa lebih memahami al-qur'an
BalasHapusTerimakasih sudah membuat makalah ini...sangat bermanfaat bagi saya yang baru belajar Al Qur'an...semoga diperlancar segala urusannya...Barakallah
BalasHapusAlhamdulillah, terimakasih untuk penulis yang telah membuat makalah ini, karena setelah saya membaca ini, saya lebih memahami surat2 alquran
BalasHapusWahh, alhamdulillah, setelah baca makalah ini saya jadi lebih memahami al-qur'an :)
BalasHapusSangat bermanfaat :)
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat dan semoga berguna untuk orang yang telah membaca
BalasHapusTerimakasih sudah membuat makalah ini, alhamdulillah bisa buat referensi tugas saya tentang surat Al-Quran:)
BalasHapusMakasii yang sudah membuat blog yang bermanfaat inii astagaa membantuu sekali blognyaa:)
BalasHapusAlhamdulillah semoga allah memberi pahala baik kepada yang membuat blog, dan bagi pembaca juga
BalasHapusAlhamdulillah semoga allah memberi pahala baik kepada yang membuat blog, dan bagi pembaca juga
BalasHapusAlhamdulillah terimakasih blog nya sangat membantu, isinya juga sesuai, the best deh pokoknyaaa
BalasHapusblog yang sangat bermanfaat dan membantu.Terima kasih
BalasHapusAlhamdulillah, blog yang sangat membantu sekali dan memudahkan dalam tugas saya. Terima kasih kepada penulis
BalasHapusTulisan yang bermanfaat, saya jadi lebih mengerti bahwa surat juga ada pola penataan-nya.
BalasHapusSangat bermanfaat :) terima kasih:)❤
BalasHapusSangat bermanfaat dan ini sangat membantu, dan semoga bergunaa bagi kita semuaaa, terima kasih:)
BalasHapusTerimakasih kak,ini sangat menambah wawasan kita, semoga bermanfaat dan berkah kak
BalasHapusAlhamdulillah setelah membaca makalah ini saya lebih memahami surat Al-Qur'an ini😍
BalasHapusSebelumnya terimakasih, semoga ilmu ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
BalasHapusMakalahnya bagus sekali, semoga dapat mennginspirasi bagi para pembaca dan bermanfaat aminnn
BalasHapusTerima kasih, menambah ilmu baru dan semoga bermanfaat ilmunya bagi yang lainnya juga
BalasHapusterimakasih atas informasinya, sangat membantu dan tentunya juga sangat bermanfaat bagi para pembaca
BalasHapusAlhamdulillah semoga bermanfaat ya dan menambah pengetahuan bagi para pembaca
BalasHapusterimakasih kak telah berbagi ilmu yang bermanfaat kepada kami semua, sangat membantu....
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusalhamdulillah semoga ilmunya bermanfaat untuk belajar bagi yang penasaran
BalasHapusrecommend banget untuk belajar
Hapusalhamdulillah mendapat berkah, bermanfaat untuk kita semua. terimakasih kak rany
BalasHapusTerimakasih sudah berbagi ilmunya dan semoga dapat bermanfaat bagi pembaca
BalasHapusterima kasih sudah membagikan ilmunya, semoga bermanfaat bagi kita semua
BalasHapusMasyaAllah, semoga menjadi ladang pahala bagi penulis karena telah membagi ilmunya melalui artikel ini. Aamiin
BalasHapusMakasih kak aq bisa dapet ilmu baru..semoga bisa membagi ilmu kepada semua orang
BalasHapusSaya jadi lebih tahu jelas tentang surat di di dalam Al-Qur'an, mulai dari pengertian, penempataan sampai penamaan. Sangat bermanfaat!
BalasHapusMasyaallah mbak rani, makalah anda dalam blogspot ini sangat informatif sekali dan edukatif, mantap.
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusSebelumnya terimakasih atas ilmunya, seboga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
BalasHapuswah rani ini temenku sd ya? benar2 pesat perkembanganmu ran, tetap semangat yaaa
BalasHapusbagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi saya dan yang membaca
BalasHapusPostingannya sangat bermanfaat. Semoga lain waktu bisa posting lebih banyak lagi :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAlhamdulillah dapet ilmu baru setelah membaca artikel ini. Suka dengan gaya penulisannya sangat menyeluruh. Keren banget siii
BalasHapusPercaya dan pasrahkan semua kepada Allah Swt,, kuatkan doa banyakin usaha,, Good job
BalasHapusAlhamdulillah dengan membaca makalah ini memberikan kita tambahan pengetahuan mengenai Al Qur'an
BalasHapusMantulll ya ukhti aku jadi paham banget biasnya penjelasannya rumit ini mudah di pahami banget huhuhu 💕
BalasHapuswahh sangat membantu sekali ...
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat, semangat terus untuk kedepannya.
BalasHapusalhamdulillah dengan membaca makalah ini memberikan saya tambahan wawasan mengenai Al Qur'an, terima kasih semoga kedepan nya menjadi lebih baik lagi
BalasHapusAlhamdulillah kak, sangat bermanfaat ilmunya. Teruskan menulis, semoga sehat selalu.
BalasHapusBerarti surat-surat dalam al-Qur'an itu disusun secara tauqifi yaa, bukan urutan dari sahabat nabi?
BalasHapusIlmu tentang surat al-Qur'an ini memberikan wawasan yang lebih luas kepada saya
BalasHapusSurat juga urutannya berdasarkan nama ya, waa terima kasih tulisannya
BalasHapusAlhamdulillah berkat blog ini mendapat ilmu tentang surat dalam quran
BalasHapusKak rani makasih yaa, ilmu surat surat dalam al quran nya . terbaik dehh
BalasHapus